Breaking News:

Batik Lulantatibu Diminati Malaysia, Ketua UMKM Beber Kendala Produksi Batik Khas Nunukan

Kualitas batik Lulantatibu diminati Malaysia, Ketua UMKM beber kendala produksi batik khas Nunukan.

Penulis: Febrianus Felis | Editor: Cornel Dimas Satrio
TribunKaltara.com / Febrianus Felis
Ketua UMKM Nunukan, Robianto menunjukkan batik khas Nunukan, batik Lulantatibu beberapa waktu lalu. (TribunKaltara.com / Febrianus Felis) 

Kendati demikian, produksi batik khas Nunukan saat ini terhambat, lantaran impor bahan baku termasuk pewarna selama ini berasal dari China.

"Semenjak pandemi covid-19, produksi batik sedikit terhambat, karena bahan baku dan pewarna itu berasal dari China," ungkap manajer 93 Food Court Nunukan ini.

Robianti menambahkan, batik khas Nunukan sudah disukai negara tetangga, Malaysia sejak lama.

Lantaran, sejak 2014 melalui Dinas Pariwisata Nunukan mempopulerkan batik Lulantatibu pada Wonderful Indonesia sekaligus pameran batik di Tawau, Malaysia.

"Ibu Konsulat RI di Tawau sering pesan batik ke kita termasuk pengusaha Malaysia.

Justru beberapa sekolah di Tawau minta kita ajari produksinya. Tapi persoalan waktu jadi kendala," tutur Robianti.

Bahkan, sudah ada sinyal dari pengusaha di Malaysia untuk menjalin kerjasama dengan UMKM batik Nunukan.

"Pengusaha dari Malaysia minta ada yang jadi penghubung kerjasama batik ini.

Kebetulan saya juga bagian dari Kadin Nunukan, sudah diupayakan backup namun belum ada kelanjutan," ungkap Robianti.

Dia berharap di tengah pandemi Covid-19 ini, pelaku usaha di Nunukan, khususnya batik bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

"Teman-teman pelaku usaha kurang menguasai kemajuan teknologi.

Sehingga tuntutan menggunakan teknologi saat pandemi covid-19, menjadi kendala bagi pelaku usaha di Nunukan," tambah Robianti.

( TribunKaltara.com/ Felis )

(*)

Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved