Breaking News:

Berita Malinau Terkini

Selain Banjir, Karhutla dan Bencana Tanah Longsor Rawan Terjadi di Malinau, BPBD Beberkan Pemicunya

Selain banjir, karhutla dan bencana tanah longsor rawan terjadi di Malinau, BPBD beberkan pemicunya.

TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malinau, Ibau Jalung. (TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI) 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Selain banjir, karhutla dan bencana tanah longsor rawan terjadi di Malinau, BPBD beberkan pemicunya.

Kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla dan tanah longsor tergolong jenis bencana alam yang jarang terjadi di Kabupaten Malinau.

Kendati demikian, Badan Pencegahan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malinau turut mewaspadai potensi kerawanan bencana tersebut.

Baca juga: HUT Satpol PP & Satlinmas di Malinau, Kamran Daik: Petugas Diimbau Semakin Tegas Namun Tetap Humanis

Baca juga: Tindak Lanjut Pencanangan Zona Integritas, Tim Penilai Mabes Polri Periksa Kesiapan Polres Malinau

Baca juga: Mau Mengurus KTP Elektronik di Malinau? Berikut Syarat dan Berkas yang Wajib Anda Lengkapi

Kepala Pelaksana BPBD Malinau, Ibau Jalung mengakui Karhutla dan tanah longsor merupakan jenis bencana yang jarang terjadi.

Namun potensi jenis bencana tersebut berada di urutan selanjutnya setelah bencana banjir di Malinau.

Kebiasaan masyarakat di Kabupaten Malinau berpindah-pindah saat berladang, menurutnya merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat.

Namun, terkadang ada kebiasaan yang tanpa disadari menjadi satu dari sekian faktor penyebab terjadinya bencana banjir di Malinau.

"Ada kebiasaan masyarakat yang tanpa disadari menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir. Seperti menebang pohon dipinggiran sungai," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Kamis (4/3/2021).

Menurut Ibau Jalung, kearifan lokal masyarakat sekitar saat bertani adalah kebiasaan berpindah-pindah saat berladang.

Ada sebagian masyarakat yang berladang di wilayah pesisir cenderung menebang habis pepohonan di daerah aliran sungai (DAS).

"Pepohonan di sepanjang daerah aliran sungai punya fungsi ekologi, mencegah terjadinya erosi. Kalau pesisirnya longsor, air sungai lebih cepat naik ke permukan. Jadi pohon-pohon ini jangan ditebang," ucapnya.

Ibau Jalung turut mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi cuaca sebelum memutuskan untuk membakar lahan.

Umumnya, sejumlah masyarakat membuka lahan dan membersihkan wilayah pertanian dengan cara dibakar.

Sekalipun kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Malinau jarang sekali terjadi, sebagai langkah pencegahan pihaknya berkewajiban mengingatkan.

"Membuka lahan sah-sah saja, tapi kami minta supaya kondisi cuaca dapat diperhatikan. Sebelum dibakar, areanya dibatasi, supaya api tidak membesar," katanya.

Baca juga: BPBD Malinau Awasi Daerah Rawan Banjir, Waspada Cuaca Ekstrem, Intens Sosialisasi ke Masyarakat

Baca juga: UPDATE Ratusan Pasien Positif Covid-19 Dinyatakan Sembuh, Tersisa 3 Terkonfirmasi Dirawat di Malinau

Baca juga: Setahun Pandemi, Tahun 2022 Pemkab Malinau Prioritaskan Program Pembangunan Daerah Pasca Covid-19

Menurutnya, BPBD Malinau kerap kali mengingatkan masyarakat terkait potensi bencana yang mungkin timbul diakibatkan kelalaian manusia.

Hal ini katanya, sesuai dengan pesan Presiden RI, Joko Widodo dalam Rakornas virtual BNPB RI 2021 yang digelar kemarin, Rabu (3/3/2021).

Yakni, memberikan sosialisasi dan literasi kebencanaan kepada masyarakat.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

Jangan Lupa Like Fanpage Facebook TribunKaltara.com

Follow Twitter TribunKaltara.com

Follow Instagram tribun_kaltara

Subscribes YouTube Tribun Kaltara Official

Penulis: Mohamad Supri
Editor: M Purnomo Susanto
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved