Breaking News:

Tradisi Manene

Menggelar Ritual Ma'Nene, Masyarakat Toraja Habiskan Biaya Rp 80 Juta untuk Membangun Ini

Dalam ritual Ma’nene, jasad suami istri setelah diangkat dari liang lahat akan dibersihan dan dirias. Setelah itu ditempatkan di bangunan rumah.

tribunkaltara.com
Masyarakat suku Toraja melangsungkan ritual Ma'Nene di Jalan Persemaian, RT 010 Kelurahan Nunukan Barat, Kabupaten Nunukan, Kamis (01/04/2021). 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Dalam ritual Ma’nene, jasad pasangan suami istri setelah diangkat dari liang lahat akan dibersihan dan dirias.

Setelah jasad pasutri, M Timbang (kakek) yang telah meninggal 33 tahun lalu dan Maria Maku' (77) meninggal pada 2017 akan ditempatkan dalam sebuah bangunan rumah.

Bangunan rumah tersebut berukuran, panjang 7 meter dan lebar 5 meter termasuk kaki lima.

"Jadi petinya ditempatkan beda liang lahat. Hanya saja satu bangunan rumah. Untuk membuat bangunan rumah itu biayanya hampir Rp 80 juta,” ungkap Titus Takke, warga Toraja yang tinggal di Nunukan, Kalimantan Utara.

Baca juga: Jasad Meninggal Puluhan Tahun Dibersihkan dan Dirias ala Pengantin, Inilah Makna Ritual Ma’nene

Baca juga: BREAKING NEWS, Ritual Suku Toraja, 33 Tahun setelah Dikubur, Mayat Pasutri Diangkat dari Liang Lahat

Dikutip dari travel.tribunews.com, tradisi Ma'nene di Tana Toraja itu, memiliki cerita dari masa lalu yang melatarbelakanginya.

Terlepas dari cerita itu adalah fakta atau bukan, yang jelas suku Toraja percaya bahwa memanusiakan orang yang sudah meninggal adalah perbuatan yang mulia.

Pelaksanaan ritual Ma'nene suku Toraja, yakni mengangkat mayat pasangan suami istri (pasutri) dari liang lahat setelah 33 tahun setelah meninggal dunia .
Pelaksanaan ritual Ma'nene suku Toraja, yakni mengangkat mayat pasangan suami istri (pasutri) dari liang lahat setelah 33 tahun setelah meninggal dunia . (tribunkaltara.com)

Pada suatu hari ada seorang pemburu bernama Pong Rumasek yang menemukan sesosok mayat tergeletak di tengah jalan dengan kondisi memprihatinkan.

Hal ini membuat hati Pong Rumasek tergerak.

Akhirnya, dilepaskanlah bajunya untuk dikenakan kepada jasad yang tinggal menyisakan tulang-belulang itu.

Baca juga: Chord Gitar dan Lirik Lagu Sahur Tiba - Gigi: Puasa Hari Esok karena Allah Semata

Lalu dipindahkannya ke tempat yang layak. Ketika pulang ke rumahnya, Pong Rumasek terkejut karena mendapati lahan pertaniannya sudah siap panen, padahal seharusnya belum waktunya.

Halaman
12
Penulis: Febrianus Felis
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved