Breaking News:

Berita Daerah Terkini

Aksi Kamisan Singgung Korban Penembakan Reformasi 1998 & Janji Jokowi, Merawat Ingatan Menolak Lupa

Aksi Kamisan singgung korban penembakan reformasi 1998 & janji Jokowi, merawat ingatan menolak lupa

istimewa
Aksi Kamisan dan launching buku Melawan dari Mahakam, Jumat (28/5/2021) 

TRIBUNKALTIM.CO.SAMARINDA.- Aksi Kamisan singgung korban penembakan reformasi 1998 & janji Jokowi, merawat ingatan menolak lupa

Untuk yang ke 170 kalinya para aktivis dan mahasiswa yang tergabung dalam aksi Kamisan kembali melakukan aksi solidaritas mereka yang dilakukan di setiap hari Kamis.

Kali ini Aksi Kamisan ini dilakukan di salah satu cafetaria yang ada di Jalan Ks Tubun, Samarinda Kalimantan Timur, Jumat (28/5/2021)

Baca juga: Viral Masjid di Yogyakarta Gelar Aksi Patungan untuk Beli Kapal Selam, Pengganti KRI Nanggala-402

Baca juga: Peduli Korban Bencana Banjir di Nunukan & Kalsel, Garda Malinau Gelar Aksi Penggalangan Dana

Baca juga: Puluhan Jurnalis Bontang Gelar Aksi Solidaritas di Polres Kecam Tindakan Represif Aparat ke Wartawan

Darmawansyah, salah seorang anggota Kamisan menuturkan bahwa Aksi Kamisan adalah bentuk solidaritas bagi Ibu Sumarsi di Jakarta, seorang ibu dari anak yang menjadi korban penembakan di kerusuhan tahun 1998 lalu. Dimana berpuluh tahun lamanya sejak 2007, Ibu Sumarsi hanya mendapat janji dari Presiden ke Presiden Indonesia.

"Karena terus dijanjiakan, jadi setiap hari Kamis, beliau (Sumarsi) berdiri di depan Gedung Istana Merdeka untuk menagih janji dari pemerintah untuk menuntaskan kasus Ham yang terjadi terhadap anaknya," kata Herdiansyah.

Oleh sebab itu, lanjut Herdi, semenjak 2017 dibuatlah aksi solidaritas bagi Ibu Sumarsih setiap Hari Kamis.

"Yang kasihan sebenarnya adalah kita. Karena setelah sepuluh tahun perjuangan ibu Sumarsih, kita baru bergerak menyuarakan ketidakadilan hukum dan pemerintahan di negeri ini," lanjutnya.

Selain memang agenda solidaritas rutin, pada aksi tersebut Kamisan meluncurkan buku yang berjudul "Melawan Dari Mahakam".

Lola Devung, salah seorang penulis mengatakan bahwa buku tersebut merupakan rangkuman dari aksi-aksi orasi yang dilakukan di depan pemerintah.

"Kami menulis sebagai bukti kepada masyarakat bahwa kita yang kuat teriak demo bisa menulis. Anggapan masyarakat kita adalah kita taunya demo, tanpa tau menulis," urai Wanita berdarah Dayak ini.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved