Breaking News:

Banjir di Nunukan

Banjir Sembakung Nunukan Surut jadi 4,35 Meter, Ketua KSB: Desa Tagul Masih Sepinggang Orang Dewasa

Banjir Sembakung Nunukan surut jadi 4,35 meter, Ketua KSB: Desa Tagul masih sepinggang orang dewasa.

Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
HO/KSB Sembakung
Desa Tagul, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan banjir masih tinggi sepinggang orang dewasa, Minggu (30/05/2021), sore. (HO/KSB Sembakung) 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Banjir Sembakung Nunukan surut jadi 4,35 meter, Ketua KSB: Desa Tagul masih sepinggang orang dewasa.

Banjir di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, perlahan surut. Per pukul 21.52 Wita malam tadi, ketinggian air surut menjadi 4,35 meter, sebelumnya sempat 4,65 meter.

Kendati begitu, dari 8 desa yang terendam banjir masih ada satu desa yakni Desa Tagul yang ketinggian airnya setinggi pinggang orang dewasa.

Baca juga: Update 8 Desa di Sembakung Nunukan Kaltara Diterjang Banjir, Ini Jumlah Warga & Fasilitas Terdampak

Baca juga: Hasil Galang Dana Terkumpul Rp13 Juta, PMI Malinau akan Belikan Kebutuhan Korban Banjir

Baca juga: Cerita Warga Sembakung Enggan Mengungsi Meski Rumahnya Digenangi Banjir 5 Meter, Ini Alasannya

Diketahui, banjir yang merendam 8 desa sejak 25 Mei lalu itu yakni Desa Butas Bagu, Labuk, Pagar, Tujung, Manuk Bungkul, Atap, Lubakan dan Tagul.

Ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) di Sembakung, Abdullah, mengatakan, penyebab ketinggian air di Desa Tagul setinggi pinggang orang dewasa, lantaran desa itu paling dekat dengan air laut pasang.

"Desa Tagul masih sepinggang orang dewasa. Karena di sana terdekat dengan air laut pasang. Dengan kata lain masih air jadi. Soal berapa ketinggian pastinya, belum bisa dikonfirmasi. Karena terkendala jaringan," kata Abdullah kepada TribunKaltara.com, Minggu (30/05/2021), sore.

Namun, Abdullah mengaku, pagi tadi tim BPBD Nunukan, KSB, Desa Tangguh Bencana (Destana), dan Tagana sudah menuju ke Desa Tagul untuk melakukan monitoring dan evaluasi pasca banjir di desa yang paling parah terdampak banjir.

"Sebagian stand by mempersiapkan segala sesuatunya di posko. Sambil monitor ke desa-desa melalui grup Pemdes. Kami juga masih lakukan terus pendataan warga yang terdampak. Jadi untuk Desa Tagul belum ada kepastian. Masalahnya juga tiang ukur pantau hanya ada di kecamatan," ucapnya.

Untuk bisa sampai ke Desa Tagul, tim BPBD Nunukan bersama relawan banjir lainnya harus menempuh perjalanan selama 2 jam dengan menggunakan perahu panjang.

"Itupun perahu panjang milik perusahaan. Kami minta bantuan armada. Karena armada kami nggak ada. Jadi nanti tim kalau sudah turun baru ada kabar soal situasi di Desa Tagul," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved