Berita Malinau Terkini

Digadang-gadang jadi Sektor Unggulan Daerah, Ini Tanggapan Petani Soal Potensi Pertanian di Malinau

Digadang-gadang jadi sektor unggulan daerah, ini tanggapan petani soal potensi pertanian di Malinau.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI
Hamparan tanaman padi milik Agustinus, Petani di Desa Semengaris, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Minggu (30/5/2021). (TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI) 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Digadang-gadang jadi sektor unggulan daerah, ini tanggapan petani soal potensi pertanian di Malinau.

Potensi pertanian digadang-gadang akan menjadi dulang pendapatan daerah di Kabupaten Malinau.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau menyasar sektor pertanian, guna dijadikan alternatif sektor unggulan daerah selain sektor galian dan pertambangan.

Baca juga: Hasil Galang Dana Terkumpul Rp13 Juta, PMI Malinau akan Belikan Kebutuhan Korban Banjir

Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG Malinau Minggu 30 Mei 2021, Waspada Hujan Petir pada Malam Hari

Baca juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini Minggu 30 Mei 2021, BMKG: Cuaca Ekstrem di Wilayah Malinau, Ini Daerahnya

Ketua Kelompok Tani di Desa Semengaris, Kecamatan Malinau Utara, Agustinus mengatakan rencana tersebut bisa saja terealisasi.

Dengan syarat pemerintah daerah berkomitmen untuk mendongkrak taraf hidup petani di daerah dan memerhatikan secara serius kesejahteraan para petani.

Menurutnya, untuk wilayah Kecamatan Malinau Utara, rata-rata hasil panen padi tiap petani berkisar 4 hingga 4,5 ton per hektar.

"Kalau di wilayah Malinau Utara, sebagaian sawahnya jenis lahan pasang surut. Jika padinya jadi, tidak kena penyakit atau gagal panen, bisa dapat minimal 4 ton per hektar," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Minggu (30/5/2021).

Varietas padi yang ditanam oleh Agustinus diakuinya merupakan benih yang dibeli sendiri dari wilayah luar.

Karena menurutnya lebih cocok dan hasilnya jauh lebih memuaskan daripada varietas benih padi bantuan dari Dinas Pertanian setempat.

"Saya pakai benih sendiri. Karena sudah berapa kali uji coba, ini yang paling cocok. Kalau benih bantuan, padinya tidak tahan. Susah mau jadi," katanya.

Lahan seluas 2 hektar milik Agustinus di Desa Semenggaris diakuinya merupakan tempat dia dan keluarganya bergantung hidup.

Bahkan menurutnya cukup untuk menguliahkan anaknya ke daerah luar dari hasil panen di lahan pribadi yang telah dikelolanya selama lebih dari 20 tahun.

"Anak kuliah di Semarang saya biayai sendiri dari hasil panen. Tidak ada bantuan atau bea siswa dari Pemerintah daerah. Dulu ada dijanjikan, tapi tidak ada tindak lanjutnya," ucapnya.

Selama lebih dari 20 tahun bekerja sebagai petani, dia menyampaikan padi miliknya sempat beberapa kali gagal panen.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved