Breaking News:

Berita Bulungan Terkini

Air Asam Hingga tak Bisa Pasarkan Beras, Hasil Tani di Tanjung Buka Kabupaten Bulungan Terus Menurun

Air asam hingga tak bisa pasarkan beras, hasil tani di Tanjung Buka Kabupaten Bulungan terus menurun.

TRIBUNKALTARA.COM / MAULANA ILHAMI FAWDI
Ketua Gapoktan Wonomukti, Sarmin saat ditemui di sawahnya di SP 7, Tanjung Buka, Tanjung Palas Tengah ( TRIBUNKALTARA.COM / MAULANA ILHAMI FAWDI ) 

TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Air asam hingga tak bisa pasarkan beras, hasil tani di Tanjung Buka Kabupaten Bulungan terus menurun.

Para petani yang ada di Desa Tanjung Buka, tepatnya di Satuan Permukiman atau SP 7 dan 8, mengungkapkan banyak permasalahan yang dihadapi dalam mengelola padi.

Seperti halnya masalah irigiasi, keasaman tingkat air hingga sulitnya memasarkan hasil produksi.

Baca juga: Petani tak Ingin Dipaksa Tanam Padi, Air Sungai Kerap Genangi Sawah & Hasil Panen Sulit Dipasarkan

Baca juga: Kisah Petani di Bulungan, Suryadi Sampaikan Keluh Kesah, Minta Jangan Paksa Tanam Padi di Lokasi ini

Baca juga: 40 Babi di Bulungan Mati Mendadak, Dinas Pertanian Kaltara Jelaskan Virus ASF, Menular ke Manusia?

Salah satunya diungkapkan oleh Ketua Gapokton Wonomukti di SP 7, Sarmin, saat ditemui di tepian sawah miliknya, Minggu (13/6/2021).

Menurut Sarmin, sejak kedatangannya di kawasan SP 7 pada 2009 lalu, lima tahun terakhir ini adalah kondisi yang sulit bagi dirinya, lantaran produksi padi semakin menurun.

"Dari 2009 itu, lima tahun awal itu bagus, lalu lima tahun ke atas malah merosot," ujar Ketua Gapoktan Wonomukti, Sarmin.

Sarmin menduga merosotnya produksi padi disebabkan oleh sakitnya padi yang ditanam lantaran kerap tergenang oleh air pasang yang mengandung zat asam.

"Apakah karena penggalian parit atau pintu airnya, jadi airnya menggenang dan zat asam ini naik, lalu padinya jadi kuning," ujarnya.

Kendati masih bisa dipanen, padi yang menguning atau sakit, menghasilkan gabah kering dalam jumlah sedikit, yakni hanya sekitar 1 Ton per Hektar, menurun dari kondisi normal di kisaran 5 Ton per Hektarnya.

"Memang masih bisa panen, kita kasih obat, tapi hasilnya jauh, bisa di bawah 1 Ton Gabah Keringlah," jelasnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved