Breaking News:

Berita Tarakan Terkini

9 Provinsi di Indonesia Ditarget Melakukan Rehabilitasi Mangrove, Kaltara Dimulai Agustus Mendatang

Kaltara masuk dalam salah satu dari 9 provinsi yang ditarget akan dilakukan Restorasi Gambut dan Rehabilitasi Mangrove.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Salah satu lokasi mangrove di Kota Tarakan, Provinsi Kaltara. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Percepatan kegiatan rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara siap dilaksanakan Agustus 2021 mendatang. Ini diungkapkan Noviar, Kepala Kelompok Kerja Percepatan Restorasi Gambut dan Rehabilitasi Mangrove (BRMG). 

Kegiatan rehabilitasi mangrove nantinya BRGM bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Mahakam Berau dalam menyusun rancangan teknis rehabilitasi mangrove yang akan digunakan sebagai acuan pelaksanaan rehabilitasi di Kaltara.

Ia menjelaskan, Kaltara masuk dalam salah satu dari 9 provinsi yang ditarget akan dilakuka rehabilitasi oleh BRGM. Tahun ini, luas area mangrove yang akan direhabilitasi sekitar 3.635 hektare dari 83.000 hektare target nasional.

Baca juga: Mangrove Kaltara Banyak Berubah Jadi Tambak, BRGM Siapkan Rp 1,5 T untuk Rehabilitasi di 9 Provinsi

“Kegiatan rehabilitasi mangrove BRGM menggunakan pendekatan padat karya. Bentuknya berupa penanaman bibit mangrove dengan pola tanam murni, silvofishery, rumpun berjarak dan pengayaan,” beber Noviar.

Pendekatan ini lanjut Noviar, menempatkan masyarakat sebagai aktor penting dalam kegiatan rehabilitasi mangrove.

Baca juga: Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Balai TNK Bontang Menanam 2.021 Pohon Mangrove

Kepala Kelompok Kerja Partisipasi dan Kemitraan BRGM, Muhammad Yusuf mengatakan, dalam hal pelaksanaan, masyarakat merupakan ujung tombak keberhasilan rehabilitasi mangrove di tingkat tapak karena masyarakat berinteraksi langsung dengan ekosistem mangrove.

Ini juga yang melatarbelakangi BRGM mengembangkan rehabilitasi mangrove berbasis masyarakat lanjutnya. Basis pelaksanaan ini juga dapat memastikan keberlanjutan pemulihan ekosistem mangrove baik dari aspek biofisik, sosial, ekonomi maupun penguatan kelembagaan di desa.

Menannam 2.021 batang mangrove dalam rangka Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2021, di Park Mangrove Saleba.
Menannam 2.021 batang mangrove dalam rangka Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2021, di Park Mangrove Saleba. (TRIBUNKALTIM.CO)

“Beranjak dari pemahaman ini, BRGM membentuk Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM),” jelasnya.

Dijelaskan lebih jauh olehnya, DMPM adalah kerangka kerja yang mengintegrasikan perlindungan dan pengelolaan ekosistem dengan pendekatan pembangunan desa dan kawasan perdesaan.

Baca juga: Gubernur Kaltim Ikut Menanam Mangrove di Delta Mahakam, Isran Noor: Ini Cangkulan Anak Sangkulirang

BRGM juga akan melakukan pemberdayaan masyarakat. Upaya pemberdayaan ini adalah untuk mengembangkan potensi ekonomi yang ada.

“Bentuknya berupa pengembangan usaha,” tutur Agung Rusdiyatmoko, Kepala Kelompok Kerja Rehabilitasi Mangrove Wilayah Kalimantan BRGM.

Di Kaltara sendiri, proses pengembangan usaha ini masih dalam tahap identifikasi Pokmas. Oleh karena itu, peserta sosialisasi yang terdiri dari Pemerintah Daerah, UPT, LSM, akademisi dan masyarakat ini diajak untuk singkronisasi kegiatan.

Baca juga: Gandeng Pemda Nunukan, Alumni Universitas Mulawarman Bersih-bersih Kawasan Pesisir & Hutan Mangrove

“Kami harap, peserta dapat menyampaikan kegiatan yang dilakukan instansinya,” harapnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved