Berkat dan Kekuatan Indonesia Raya

ADA semangat dan harapan menarik yang tersirat pada moto perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76: Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Editor: Sumarsono
IST
Mochamad Husni, Praktisi Hubungan Masyarakat atau 'Public Relations' 

Jejak paling otentik bisa kita lihat pada alinea ketiga teks pembukaan UUD 1945 yang diputuskan dalam sidang-sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia sehari setelah proklamasi.

Selain kalimat "didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas" yang merujuk pada usaha-usaha para pejuang, pada pembukaan ditegaskan bahwa kemerdekaan itu kita raih "Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa".

Nuansa agamis yang sama tertera dalam rapat-rapat beberapa bulan sebelum proklamasi.

Baik di dalam Panitia Kecil, Panitia Sembilan, maupun Panitia Perancang Undang-Undang Dasar saat merumuskan dasar-dasar negara yang hendak dipakai untuk mendirikan Indonesia merdeka, sebagai pondasi, filsafat, pikiran yang mendalam. "Filosofische Grondslag," kata Bung Karno.

Dari rumusan yang kemudian disepakati bersama itu kita dapat membaca pemikiran, sikap bahkan konstelasi kekuatan yang mewarnai keragaman Indonesia.

Di antara ideologi nasionalis sekuler, kelompok agamis juga nyata dan memainkan peran menentukan. Bukan sekadar hadir, keduanya bersatu tanpa saling melemahkan.

Kesaksian tokoh penting proklamasi Sayuti Melik yang dituangkan dalam artikel "Perkenalan Saya dengan Bung Karno", sangat cukup menggambarkan eksistensi dan perpaduan nasionalis sekaligus agamis.

Di buku yang diterbitkan Sinar Harapan dengan judul "80 tahun Bung Karno", pemuda yang dikenal sebagai pengetik naskah proklamasi ini memaparkan alasan Sang Proklamator ketika menggali nilai-nilai Pancasila.

Bagi Bung Karno, dasar atau filsafat yang harus dipergunakan Indonesia merdeka selain "sosio-nasionalisme" dan "sosio-demokrasi" adalah Ketuhanan.

'Sebab, perjuangan bangsa Indonesia adalah berdasarkan Ketuhanan juga. Pengertian ini diperoleh dari kenyataan banyaknya perjuangan yang berasaskan keagamaan," tulis Sayuti Melik.

Sebagai turunan dari prinsip berketuhanan, hal menarik kedua adalah penggunaan kata "berkat" pada pembukaan UUD 1945.

Di samping mengimani keberadaan Tuhan, dengan kacamata religius para tokoh bangsa memaknai kemerdekaan sebagai nikmat pemberian Tuhan.

Tuhan yang maha pemurah, yang tidak sekadar mengabulkan doa, tapi juga menganugerahi bangsa Indonesia dengan potensi, kekayaan, keunggulan dan kekuatan.

Ada delapan makna berkat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semua berputar sekitar kebaikan, keberuntungan, kebahagiaan, manfaat, keselamatan dari Tuhan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved