Opini

Runtuhnya Kebebasan Akademik dan Catatan Solidaritas

Seorang dosen senior di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh bernama Saiful Mahdi dilaporkan ke polisi, usai melakukan kritik.

Editor: Amiruddin
HO/Sholihin Bone
Pengajar Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Sholihin Bone 

Tulisan ini adalah bentuk solidaritas saya kepada Bapak Saiful Mahdi yang sedang mengalami persoalan, juga sebagai spirit dan renungan bersama agar kedepan hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi dilingkungan universitas. Setidaknya, ada enam hal yang perlu saya paparkan di dalam tulisan ini.

Hal pertama yang harus saya uraikan adalah, bahwa Kampus adalah tempat untuk menyemai nilai-nilai kearifan, nilai kebebasan, nilai kebaikan yang harus senantiasa dipelihara oleh seluruh civitas akademika.

Insan kampus tidak boleh “dibelenggu” apalagi dikriminalisasi ketika dia menyuarakan hal-hal yang bermuara pada kebaikan. Apa yang dilakukan oleh Bapak Saiful Mahdi, adalah upaya untuk meluruskan hal-hal yang dia anggap tidak baik.

Bapak Saiful Mahdi berupaya untuk memperbaiki sistem di dalam tubuh Unsyiah dengan data atau sumber yang dia miliki, tentang adanya ketidakadilan di dalam penerimaan Dosen di FT Unsyiah.

Saya melihat kebebasan akademik kemudian terganggu dengan persoalan ini. Bagi saya, kebebasan akademik adalah hal sangat fundamental dan tidak bisa ditawar-tawar, itu adalah “jantung” bagi insan kampus untuk menyoroti hal-hal yang tidak koheren baik dalam lingkungan kerja atau lingkungan sosialnya, sepanjang memiliki data dan landasan kritik yang jelas, mengapa tidak.

Dalam konteks ini, saya melihat Bapak Saiful Mahdi tentu memiki data atau sumber yang dia dapat pertanggungjawabkan.

Sehingga apa yang dilakukan oleh Bapak Saiful Mahdi adalah bentuk kebebasan dalam menyampaikan apa-apa yang dianggap tidak patut dan tidak adil.

Hal kedua yang perlu saya ketengahkan adalah, saya ingin memotret persoalan ini pada dimesi HAM. Pada aspek HAM, kebebasan menyampaikan pendapat adalah hal sangat fundamental.

Kritik adalah bagian menyampaikan pendapat untuk perbaikan sebagaimana mestinya, maka kebebasan menyampaikan pendapat harus dihargai dan dijunjung tinggi oleh siapupun. Kritik harus dimaknai sebagai langkah-langkah ideal dalam menghadirkan kebaikan dan keadilan.

Sehingganya, apa yang dilakukan oleh Bapak Saiful Mahdi adalah usaha untuk memperjuangkan keadilan dan kebaikan dilingkungan universitas tempat dia mengabdi.

Oleh karena itu, dalam hemat saya, kritik yang telah disampaikan harus dikelola secara baik dikaji dan ditelaah demi perbaikan di dalam lingkungan universitas tersebut.

Menelaah persoalan ini, izinkan saya untuk mengutip Pasal 23 UU No 39 tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, “Setiap orang bebas untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa”.

Mencermati aturan ini, tentu menjadi garansi bagi siapapun untuk bersuara, menyampaikan gagasan, berbicara, atau berpendapat tanpa ada kekhawatiran dan rasa takut karena telah ada garansi dari peraturan perundang-undangan.

Hal ketiga yang juga menjadi sorotan adalah, saya ingin memotret dari teori Negara hukum yang telah diketahui secara luas.

Di dalam teori Negara Hukum disebutkan, bahwa dalam sebuah Negara, penting untuk memastikan adanya perlindungan terhadap HAM.

Maka idelanya, negara melalui institusinya harus menjaga dan melindungi setiap warga Negara untuk menyampaikan pendapatnya secara bebas dan tanpa rasa kahwatir dari ancaman dan gangguan oleh berbagai pihak.

Begitupun jika dikontekskan dalam alam demokrasi, bahwa dalam demokrasi “kebebasan” adalah niscaya untuk menyemai kebaikan dan kemaslahatan bersama.

“Memasung” kebebasan dalam bentuk kritik yang membangun adalah sebuah hal yang tidak bisa ditolerir. Apatahlagi dalam dunia akademik, persoalan kebebasan akademik adalah hal sangat fundamental.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved