Breaking News:

Berita Tarakan Terkini

Data 30 Tahun Terakhir, Kepala BMKG Tarakan M Sulam Khilmi Sebut Masuk Kategori Wilayah Non Musim

Data BMKG Kota Tarakan 30 tahun terakhir, Kepala BMKG Kota Tarakan M Sulam Khilmi Sebut Tarakan masuk kategori wilayah non musim.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
Kondisi cuaca di Tarakan tak masuk dalam kategori wilayah yang memiliki musim. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Data BMKG Kota Tarakan 30 tahun terakhir, Kepala BMKG Kota Tarakan M Sulam Khilmi Sebut Tarakan masuk kategori wilayah non musim.

Kondisi cuaca dan hujan yang tak menentu terjadi beberapa pekan terakhir di Kota Tarakan.

Dikatakan M. Sulam Khilmi, Kepala BMKG Kota Tarakan, kondisi Kota Tarakan memang tidak memiliki zona musim atau lebih tepatnya Tarakan masuk dalam wilayah yang non musim.

Baca juga: Peserta CPNS Tarakan Beber Perjalanan Seleksi saat Pandemi & Ungkap Trik Agar Lulus Passing Grade

Sehingga lanjut Khilmi, Kota Tarakan tidak termasuk daerah yang mengalami musim kemarau atau musim hujan.

Definisi musim kemarau kata Khilmi, bukan berarti tidak terjadi hujan. Melainkan, memiliki perhitungan atau curah hujan yang terukur dalam tiga dasarian.

“Maksudnya, dalam 10 hari atau per dasarian, hujan yang turun kurang dari 50 milimeter diikuti 10 hari berikutnya lagi hujannya kurang dari 50 milimeter dan lanjut 10 hari berikutnya masih kurang dari 50 milimer. Itu baru bisa dikategorikan musim kemarau,” ujarnya.

Selama 30 tahun BMKG Kota Tarakan mengamati cuaca di Tarakan, belum pernah mengalami tiga dasarian berturut-turut untuk curah hujan yang turun. Artinya selama tiga dasarian, belum pernah curah hujan kurang dari 50 milimeter terpantau BMKG.

Artinya, kata Khilmi, Tarakan tidak masuk kategori musim kemarau. Ia melanjutkan lagi berdasarkan statistik jumlah hujan dalam tiga dasar yang berturut diamati.

Baca juga: Ikut Rayakan Harpelnas, Wali Kota Apresiasi Keberadaan dan Manfaat BPJS Ketenagakerjaan di Tarakan

“Berdasarkan definisi BMKG. Ketika 10 hari pertama hujannya kurang dari 50 milimeter. Kemudian diikuti 10 hari berikutnya kurang dari 50 milimeter. Terus diikuti 10 hari berikutnya kurang dari 50 milimeter. Ini baru bisa dikatakan musim kemarau,” ujarnya.

Pada prakteknya, di Tarakan tidak demikian. Ia mencontohkan yang terjadi di Tarakan, di 10 hari pertama kurang dari 50 milimeter, namun di 10 hari berikutnya hujan turun melebihi 50 milimeter.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved