Breaking News:

Berita Malinau Terkini

Pasang Surut Usaha Peternakan di Malinau, Peternak Keluhkan Ketersediaan Pakan Lokal

Pengembangan usaha peternakan di Malinau pasang-surut diakibatkan keterbatasan penunjang.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI
Ilustrasi, Komoditas berupa ayam potong di Pasar Induk Malinau Kota, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa hari lalu. 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Pengembangan usaha peternakan di Malinau pasang-surut diakibatkan keterbatasan penunjang.

Diantaranya terkait ketersediaan penunjang peternakan dan perikanan. Diantaranya sulitnya suplai pakan ternak di Malinau.

Pengusaha dan peternak ayam di Malinau, Tahir menyampaikan kendala tersebut pada sesi diskusi antara pengusaha dan Pemda Malinau, kemarin.

Baca juga: Aji Junaedi Beber Kunci Sukses, Peternak Lele Punya 10 Kolam Ikan dengan Omset Puluhan Juta Rupiah

Tahir mengungkapkan kendala bidang usaha peternakan dan sejenisnya di Malinau adalah sulitnya memperoleh pakan ternak.

"Kendala di bidang peternakan di sini adalah masalah pakan. Modal yang dibutuhkan luar biasa besar karena sulit ditemukan," ujarnya dalam sesi dialog.

Baca juga: Harga Tomat Naik Jadi Rp 25 Ribu Perkilo di Malinau, Stok Ikan dan Ayam Potong Relatif Stabil

Rata-rata peternak unggas baik ayam petelur maupun ayam potong di Malinau berkisar seribu hingga 3 ribu ekor.

Kata Tahir, jika dikisarkan pengeluaran peternak untuk tiap seribu ekor membutuhkan 65 sak pakan. Total kocek yang harus dirogoh tiap bulan Rp 35 juta.

Ilustrasi, Komoditas berupa ayam potong di Pasar Induk Malinau Kota, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa hari lalu.
Ilustrasi, Komoditas berupa ayam potong di Pasar Induk Malinau Kota, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa hari lalu. (TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI)

Sementara harga jual pakan di pasaran seringkali melambung. Tahir mengatakan, tepat sebelum perayaan Natal 2021, terjadi kelangkaan.

"Pas Natal kemarin, pakan sempat sulit. Biasanya dijual Rp 400 ribu. Kalau kosong kaya natal kemarin, kita ambil dari Tanjung Selor atau di Berau Harganya Rp 500 ribu per sak ," katanya.

Baca juga: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Nunukan Berharap Peternak Ayam Lokal Segera Bentuk Asosiasi

Diwawancarai terpisah, Petani padi dan Jagung di Malinau, Jony memandang seharusnya dapat diuraikan sesuai visi misi daerah terkait kemandirian pangan.

"Ini kan peluang sebenarnya. Kita punya jagung, bisa diserap, diolah jadi pakan ayam. Tapi karena fasilitas masih terbatas belum bisa diolah jadi baja. Kalau cuma jagung pipil mungkin bisa," ujarnya, Kamis (13/1/2022).

Jony mengusulkan agar pemerintah daerah bisa memfasilitasi hal tersebut. Dalam bentuk pengolahan jagung menjadi pakan ternak.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved