Breaking News:

Berita Malinau Terkini

Tenaga Kerja Terbatas, Petani Beber Alsintan Solusi Optimalkan Lahan Pertanian di Malinau

Tenaga kerja terbatas, petani beber alsintan solusi optimalkan lahan pertanian di Malinau.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM / MOHAMMAD SUPRI
Kelompok tani sedang mempersiapkan lahan pertanian musim tanam triwulan 3 di Kecamatan Malinau Kota, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa waktu lalu. (TRIBUNKALTARA.COM / MOHAMMAD SUPRI) 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Tenaga kerja terbatas, petani beber alsintan solusi optimalkan lahan pertanian di Malinau.

Produksi gabah kering di Kabupaten Malinau mengalami lonjakan hingga 163 pada tahun 2021.

Pemerintah Daerah melirik sektor pertanian untuk memaksimalkan produksi gabah dengan mengoptimalkan lahan-lahan sawah di Malinau.

Baca juga: Hikayat Hutan Cadangan Tane Olen dan Muasal Desa Wisata Setulang di Malinau Selatan Hilir

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, Afri ST Padan melaporkan sejumlah catatan untuk mengoptimalkan lahan sawah di Malinau.

Menurutnya, sebagian lahan sawah belum dapat dioptimalkan karena sejumlah kendala. Diantaranya, terbatasnya tenaga kerja pertanian.

"Ada beberapa lahan yang belum optimal, ini diperkirakan karena keterbatasan tenaga kerja. Selain itu pula lahan yang belum dikelola karena banyak tunggul dan kayunya," ucapnya.

Anggota Kelompok Tani Sei Bengalun Malinau Kota, Rahman mengatakan rata-rata petani di wilayahnya mengelola lahan secara swadaya.

Terkait masalah ketenagakerjaan, menurutnya dapat disiasati dengan pengadaan Alat dan mesin pertanian (Alsintan).

"Kalau tenaga kerja memang karena rata-rata kita kerjakan sistem bantu. Menurut kami, yang dibutuhkan itu Alsintan, sama bantuan seperti racun rumput dengan racun hama," ujarnya, Sabtu (15/1/2022).

Baca juga: Produksi Meningkat 163 Persen,Desa Malinau Barat Penghasil Gabah Tertinggi di Kabupaten Malinau

Menurut Rahman, berbeda dengan pekerjaan lainnya yang menetap. Tenaga kerja pertanian bersifat sementara atau lebih tepatnya disebut pekerjaan sambilan.

"Selama ini, kita kelola sendiri-sendiri. Kalau ada alat, mungkin orang mau kelola lahannya. Ataupun pake model bagi hasil. Sebenarnya itu yang dibutuhkan, mesin pertanian," katanya.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved