Berita Tana Tidung Terkini

Kepala KUA Sesayap Ungkap Kerugian Bagi Pasangan yang Memutuskan Nikah Siri

Cukup banyak dampak yang merugikan para pasangan nikah siri, terutama pada perempuan, Salah satunya, ketika terjadi kekerasan dalam rumah tangga KDRT.

Penulis: Risnawati | Editor: Cornel Dimas Satrio
TribunKaltara.com / Risnawati
Kepala KUA Kecamatan Sesayap, Maryanto, saat melayani salah seorang warga Tana Tidung, Kalimantan Utara. (TribunKaltara.com / Risna) 

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sesayap, Maryanto mengatakan, pernikahan siri dapat menimbulkan kerugian bagi pasangan yang ingin menikah.

Dia menilai, cukup banyak dampak yang dapat merugikan para pasangan nikah siri, terutama pada perempuan.

Salah satunya, ketika terjadi kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT. Para korban KDRT dari pernikahan siri akan kesulitan ketika ingin menuntut pelaku.

"Begitu mau menuntut, ketika ditanya apakah itu betul suami, kan tidak bisa dibuktikan. Sekarang ini kan serba dalam bentuk dokumen," jelasnya.

Baca juga: Besaran Fidyah di Kabupaten Tana Tidung Tahun Ini Ikuti Besaran Zakat Fitrah

Dia menyarankan, pasangan yang ingin menikah hendaknya melaksanakan nikah resmi.

Sebab nikah resmi, kata dia, akan mempemudah segala urusan administrasi.

Bahkan, untuk mengurus akta kelahiran anak pun harus menyertakan buku nikah

"Jangankan itu, hal terkecil secara pribadi, seperti pinjam uang di Bank ketika sudah menikah saja, diminta buku nikah," katanya.

Terkait pernikahan siri di Tana Tidung, kata dia, kemungkinan hal itu masih kerap terjadi.

"Ketika mereka konsultasi ke KUA, KUA itu tidak bisa melayani karena tidak sesuai dengan regulasi.

Mungkin solusi yang mereka ambil dengan cara nikah siri," ucapnya.

Baca juga: KUA Kebayoran Lama Sebut Waktu Daftar Nikah, Rizky Billar dan Lesti Tak Ada Keterangan Nikah Siri 

Lebih lanjut dia sampaikan, beberapa faktor yang menjadi penyebab berlangsungnya pernikahan siri. Salah satunya yakni, usia yang masih di bawah umur.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia pernikahan bagi perempuan yang sebelumnya 16 tahun ditambah menjadi 19 tahun.

Sementara batas usia pernikahan bagi laki-laki tidak ada perubahan, yakni 19 tahun.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved