Idul Fitri

Hilal 1 Syawal Mulai Terlihat, Kapan Lebaran Idul Fitri 1443 H? Penjelasan Kementerian Agama

Ramadhan sudah memasuki hari ke-23 pada Senin (25/4/2022). Lalu kapan lebaran Idul Fitri 1443 H?

freepik.com
ILUSTRASI - Lebaran idul Fitri. (freepik.com) 

TRIBUNKALTARA.COM - Ramadhan sudah memasuki hari ke-23 pada Senin (25/4/2022). Lalu kapan lebaran Idul Fitri 1443 H?

Mengenai jadwal Idul Fitri 1443 H, simak penjelasan Kementerian Agama berikut.

PP Muhammmadiyah sudah memutuskan lebaran Idul Fitri bertepatan pada 2 Mei 2022.

Namun, pemerintah belum memutuskan secara resmi, begitu pula dengan ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama.

Pemerintah akan menggelar sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1443 H atau lebaran Idul Fitri pada 1 Mei mendatang.

Namun, menurut Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kemenag Kamaruddin Amin, hilal 1 Syawal terlihat pada 1 Mei 2022 petang.

Dikatakan Kamaruddin Amin, pada 29 Ramadhan 1443 H atau 1 Mei 2022 tinggi hilal di Indonesia antara 4 derajat 0,59 menit sampai 5 derajat 33,57 menit dengan sudut elongasi antara 4,89 derajat sampai 6,4 derajat.

Baca juga: Bacaan Niat Shalat Tasbih dan Tata Cara Pelaksanaannya, Ibadah Sunnah 10 Hari Terakhir Ramadhan

Lanjut Kamaruddin Amin, itu artinya secara hisab pada hari tersebut posisi hilal awal Syawal di Indonesia telah masuk kriteria baru MABIMS.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan, secara hisab posisi hilal di Indonesia saat sidang isbat mendatang sudah memenuhi kriteria baru MABIMS.

Adapun MABIMS adalah kepanjangan dari Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Kriteria baru MABIMS adalah mengharuskan hilal awal memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Kriteria baru tersebut merupakan pembaruan dari kriteria lama lantaran mendapat banyak masukan dan kritik, yakni ketinggian 2 derajat dengan sudut elongasi 3 derajat.

Kamaruddin menambahkan, pemerintah Indonesia akan menyelenggarakan sidang isbat dengan menggunakan metode hisab dan rukyat.

Pertama, Tim Unifikasi Kalender Hijriah akan mempresentasikan posisi hilal bulan Syawal secara hisab.

Baca juga: Malam Ganjil 10 Hari Terakhir Ramadhan, Ini Amalan yang Bisa Mendatangkan Lailatul Qadar

Kemudian dilanjutkan dengan laporan rukyat atau pengamatan visibilitas hilal dari seluruh Indonesia.

Lantas hasil keduanya dimusyawarahkan dalam sidang isbat untuk menentukan awal Syawal 1443 H atau Idul Fitri 2022.

“Rukyat digunakan sebagai konfirmasi terhadap hisab dan kriteria yang digunakan. Kedua hal yaitu hisab dan konfirmasi pelaksanaan rukyatul hilal akan dimusyawarahkan dalam sidang isbat untuk selanjutnya diambil keputusan awal Syawal 1443 H,” jelas Kamaruddin.

Prediksi BRIN jatuh pada 2 Mei 2022

Sebelumnya, ahli astronomi dan astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memprediksi 1 Syawal 1443 H jatuh pada Senin, 2 Mei 2022.

“Secara hisab, posisi Bulan pada saat maghrib 1 Mei 2022 di wilayah Sumatera bagian utara dekat dengan batas kriteria elongasi 6,4 derajat,” ujar Thomas kepada Kompas.com, Kamis (21/4/2022).

Namun demikian, mendung dan hujan yang mungkin terjadi di lokasi rukyat, menurut Thomas bisa menyebabkan laporan rukyat menyatakan hilal tidak terlihat.

“Dengan mempertimbangkan kemaslahatan umat, kita berharap Idul Fitri 1443 H ditetapkan seragam pada 2 Mei 2022,” harap dia.

Prediksi BMKG

Hal senada disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, Rahmat Triyono.

Rahmat mengatakan bahwa dari data-data, pengamatan rukyat hilal pada 1 Mei 2022, hilal berpotensi terlihat atau teramati.

“Konjungsi (ijtimak) awal bulan Syawal 1443 H di Indonesia terjadi sebelum Matahari terbenam pada hari Ahad, 1 Mei 2022 M, pukul 03.27 WIB atau 04.27 WITA atau 05.27 WIT,” kata Rahmat dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (22/4/2022).

Namun, hal tersebut tergantung dari kondisi cuaca saat pengamatan di setiap titik lokasi pengamatan hilal.

Rahmat menambahkan, waktu terbenam Matahari paling awal terjadi di Merauke, Papua pada pukul 17.29 WIT dan paling akhir pukul 18.45 WIB di Sabang, Aceh.

Sementara itu, tinggi hilal saat Matahari terbenam berkisar antara terendah sebesar 3,79 derajat di Merauke, Papua, sampai dengan tertinggi sebesar 5,57 derajat di Sabang, Aceh.

Elongasi saat Matahari terbenam terkecil terjadi sebesar 4,88 derajat di Oksibil, Papua, sampai dengan terbesar 6,35 derajat di Sabang, Aceh.

"Umur Bulan saat Matahari terbenam berkisar dari yang termuda sebesar 12.03 jam di Merauke Papua sampai dengan yang tertua sebesar 15.30 jam di Sabang, Aceh," imbuh Rahmat.

(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kemenag: Secara Hisab Posisi Hilal Terlihat, Apakah Lebaran Jatuh pada 2 Mei 2022?", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2022/04/25/150000865/kemenag--secara-hisab-posisi-hilal-terlihat-apakah-lebaran-jatuh-pada-2-mei.

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved