Berita Tarakan Terkini

Hikmah Idul Fitri 1443 H, Wali Kota Tarakan Khairul: Puasa Ramadan Awal Jadi Pribadi Lebih Baik

Memasuki tahun ketiga pandemi Covid-19, pelaksanaan salat Idul Fitri 1443 Hijriah mulai berangsur normal tanpa pembatasan.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Memasuki tahun ketiga pandemi Covid-19, pelaksanaan salat Idul Fitri 1443 Hijriah mulai berangsur normal tanpa pembatasan. Masyarakat pun antusias melaksanakan salat Idul Fitri.

Seperti yang tampak di Masjid Darul Iman berlokasi di lapangan SDN 024 Kampung Bugis, Kota Tarakan.

Senin (2/5/2022) pagi, Wali Kota Tarakan dr Khairul, MKes berkesempatan mengisi khutbah salat Idul Fitri di Lapangan SDN 024 Tarakan ini.

Momentum Idul Fitri 1443 Hijriah kali ini Wali Kota Khairul menyampaikan makna Idul Fitri selepas Ramadan yakni ketakwaan, berbagi dan saling memaafkan serta konsistensi umat Islam tetap istikamah.

Umat Islam akhirnya merampungkan puasa dan bisa bertemu kembali Hari Raya Idul Fitri tahun ini.

"Semoga semua amalan kita selama bulan puasa diterima,  salat malam diterima, sedekah dan kebaikan lainnya yang sudah dilakukan selama ini," ungkap Wali Kota Tarakan.

Baca juga: Wali Kota Tarakan Khairul Lebaran Tahun Ini hanya Gelar Open House Terbatas Keluarga, Ini Alasannya

Dalam khutbahnya, bulan suci baru saja dilalui meski suasana Ramadan dan 1 Syawal masih dibayangi pandemi. Ramadan mendidik dan mengajarkan berbagai hal agar insan manusia menjadi pribadi yang bertakwa.

Idul Fitri mengajarkan umat Islam agar  sepanjang bulan suci menahan lapar haus dan hal-hal yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbitnya  matahari sampai tenggelamnya matahari.

Momen Idul Fitri 1443 Hijriah, Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes belum bisa mengadakan open house bagi masyarakat umum lantaran pandemi masih belum mereda. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
Momen Idul Fitri 1443 Hijriah, Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes belum bisa mengadakan open house bagi masyarakat umum lantaran pandemi masih belum mereda. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH (Tribun Kaltara)

"Shaum atau imsak artinya diajarkan menahan, Ramadan menjadi arena berlatih diri, menahan diri godaan material.

Larangan makan minum adalah proses penempaan diri. Bila bisa melaksanakan larangan dan menahan hal itu,  maka bukan tidak mungkin bisa menahan apa yang  diharamkan pula," ungkap Khairul.

Khairul mengatakan, sebagaimana  dijelaskan dalam surah Al Baqarah diwajibkan berpuasa agar menjadi orang yang bertakwa.

Maka takwa adalah level tertinggi tingkat kemuliaan manusia. Sesungguhnya yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Baca juga: Ikut Salat Idul Fitri Berjamaah di Kantor Bupati, Inilah Pesan Bupati Syarwani di Hari Lebaran 2022

"Ketakwaan tidak bisa digapai  hanya menahan lapar saja. Ada hal substansial lain yakni menahan syahwat dan hawa nafsu. Semakin tinggi kualitas takwa kita, indikasi semkin tinggi kesuksesan berpuasa," ungkapnya.

Salah satu ciri-ciri orang bertakwa, salah satunya termuat dalam Al-Imran. Di antaranya  menafkahkan sebagian harta baik senang dan susah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved