Opini

Memetik Hikmah Idul Adha

KEHADIRAN tanggal 10 Zulhijjah 1442 Hijriah yang biasa kita sebut dengan Hari Raya Kurban tahun ini berbeda dengan hari-hari raya sebelumnya.

Editor: Sumarsono
HA
H. Abdullah Berahim, Mantan Hakim Pengadilan Tinggi Agama Samarinda 

Di Padang Arafah yang gersang  dan tandus itu, di tengah jutaan manusia, sejauh mata memandang manusia semuanya sama dalam pakaian ihram yang putih.

Di sana tidak ada beda  antara raja atau kepala negara dengan pakaian kebesarannya, bila dibandingkan dengan hamba atau rakyat jelata. 

Di sana juga tidak ada beda antara jenderal dengan prajurit bawahannya. Semuanya sama. Demikianlah tuntunan Islam yang mengajarkan kesamaan  dan kesetaraan di antara kita di hadapan Allah.

Yang membedakan manusia dengan yang lainnya di hadapan Allah, adalah hati  dan amal perbuatannya. Rasulullah saw bersabda, artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia memandang kepada hati  dan amal kalian” (HR. Muslim).

Dalam QS Al Hujurat ayat 13, Allah berfirman:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki  dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa  dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijah dan ditambah tiga hari berikutnya, yakni tanggal 11, 12  dan 13 disebut dengan hari tasyrik, umat Islam dianjurkan memotong hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada fakir miskin. 

Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Sembahyanglah kamu kepada Rabb-mu  dan berkurban-lah” (Al-Kautsar: 2).

Baca juga: Berikut Panduan Lengkap Puasa Arafah Sebelum Idul Adha, Niat dan Keutamaannya

Menurut madzhab Imam Syafi’i, memotong hewan kurban hukumnya sunnah muakkad, artinya sunnah yang dikuatkan. Rasulullah saw bersabda sebagai berikut yang artinya:

“Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati masjid kami.”

 Yang perlu kita resapi bersama adalah, untuk memahami apa hikmah yang terkandung dari ibadah kurban itu sendiri? Sebab, sebagai muslim yang hanya pada prinsipnya kita dituntut untuk berjuang  dan berkurban, seperti yang dialami oleh para nabi  dan rasul.

Begitu pula, bagi para ulama, kiyai, ustazd  dan muballigh serta pemimpin Islam dari dahulu hingga hari ini, tidak ada satupun dari mereka yang terlepas dari   perjuangan  dan pengurbanan, baik dalam bentuk moril maupun materil,  dan bahkan pengurbanan jiwa  dan raga. Yang akhir-akhir ini, di negara kita ini dikenal dengan istilah kriminalisasi ulama. Na’uzdubillah.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved