Berita Malinau Terkini

Bernilai Ratusan Ribu Rupiah, Kayu Gaharu Hutan Desa Long Pada Malinau Dapat Jadi Minyak

Gaharu yang ada di Hutan Desa Long Pada Malinau, tak hanya dapat diolah menjadi kayu, namun dapat dimanfaatkan jadi minyak. Tentu nilainya menggiurkan

Penulis: Mohamad Supri | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ HO-KUPS LONG PADA
Pengolahan Totok atau serpihan kayu gaharu menjadi produk bernilai ekonomi tinggi di Desa Long Pada, Kecamatan Sungai Tubu, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Rabu (27/7/2022). 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Kayu Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomi tinggi.

Kayu Gaharu diolah dengan cara disuling. Ekstrak hasil pengolahan kayu tersebut menjadi minyak gaharu. Untuk setiap gramnya, Minyak Gaharu bernilai ratusan ribu rupiah.

Tak heran sebagian masyarakat Malinau yang bermukim di sekitar kawasan hutan menekuni profesi sebagai pencari gaharu karena nilainya yang menggiurkan.

Baca juga: Raup Jutaan Rupiah dari Sisa Pengolahan, Masyarakat Long Pada Belajar Olah Sisa Gaharu Jadi Cuan

Praktisi Penyuling Gaharu, Takdir Bachtiar menerangkan harga minyak gaharu di Malinau saat ini dibanderol kisaran harga Rp 150 ribu per kilogram tergantung jenisnya.

Namun tak hanya isi dari Kayu Gaharu, hampir seluruh bagian dari kayu gaharu dapat diolah dan dijadikan cuan.

Diantaranya totok (serpihan kayu), limbah hasil penyulingan hingga ampas atau sisa ekstrak gaharu.

Baca juga: Kebakaran Pabrik Penyulingan Gaharu di Desa Malinau Hulu, Aset Senilai Ratusan Juta Raib Dilalap Api

"Limbah pengolahan gaharu tidak ada yang terbuang. Air bekas penyulingan dijual Rp 50 ribu sebotol. Sedangkan ampas totok dijual Rp 3 ribu per kilogram," ungkapnya.

Air bekas penyulingan umumnya dimanfaatkan sebagai parfum atau weweangian burung walet. Sementara ampasnya digunakan sebagai bahan dupa.

Sementara totok atau serpihan kayu gaharu dijual seharga Rp 35 ribu untuk Totok tua dan Rp 10 ribu untuk Totok Muda. Variasi harga ini dikarenakan kadar minyak yang terdapat pada ekstrak Totok.

Hutan Desa mengandung sejumlah hasil hutan yang melimpah di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Kamis (28/7/2022).
Hutan Desa mengandung sejumlah hasil hutan yang melimpah di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Kamis (28/7/2022). (TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI)

Takdir Bachtiar berbagi sejumlah tips dan metode memanfaatkan sisa-sisa pengolahan minyak gaharu kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Desa Long Pada melalui pelatihan yang digelar hingga kemarin, Rabu (27/7/2022).

Desa Long Pada merupakan desa di Kecamatan Sungai Tubu dengan hasil hutan yang melimpah. Masyarakat telah membentuk kelompok usaha untuk memuluskan serapan gaharu di tingkat desa.

Baca juga: Kebakaran di Jalan Pemda Malinau Hanguskan Dua Gudang Gaharu, 2 Unit Kendaraan Damkar Dikerahkan

Ketua KUPS Gaharu Long Pada, Lewi Kasing menerangkan skema pembelian melalui KUPS dirancang untuk memastikan hilirisasi produk.

Saat ini, KUPS Desa Long Pada mengajukan perangkat alat penyuling gaharu. Kelompok usaha ini berfungsi serupa koperasi.

"Selain isi gaharu, masyarakat bisa memanfaatkan totok dan sisa gaharu untuk penghasilan tambahan. Jadi masyarakat tak perlu jauh-jauh keluar desa, bisa dijual di KUPS Gaharu dengan harga yang sama," katanya.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved