Berita Malinau Terkini

Nelayan di Malinau Terancam Gantung Jaring, Akibat Harga BBM Naik, Biaya Melaut Jadi Mahal

Nelayan kecil di Malinau semakin menderita, tak hanya kenaikan harrga BBM, namun juga BBM sulit diperoleh, dan nelayan terancam gantung jaring.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI
Hasan bersama Kelompok Nelayan di Malinau, Kalimantan Utara sehari-harinya mengutip hasil sungai sebagai penopang ekonomi keluarga. Kenaikan harga BBM mengakibatkan biaya operasional nelayan kecil membengkak. 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Hasil tangkapan yang kian menurun ditambah kenaikan harga BBM atau Bahan Bakar Minyak semakin menderita nelayan kecil di Malinau.

Membengkaknya biaya operasional imbas kenaikan harga BBM mengancam nelayan yang mengutip hasil sungai di Malinau.

Ketua Kelompok Nelayan Imbayud Taka, Hasan mengaku kenaikan BBM menambah berat beban operasional bagi nelayan kecil.

Baca juga: Pasca Kenaikan BBM Subsidi, Jumlah Penumpang di Pelabuhan Tengkayu 1 Tarakan Diprediksi Berkurang

"Makanya banyak teman yang sudah berfikir mau melaut. Yah, begitula adanya kita rasakan sekarang. Ditambah harga BBM naik, otomatis biaya kita juga naik," ujarnya saat diwawancarai TribunKaltara.com, Kamis (8/9/2022).

Hasan menerangkan, setiap hari, nelayan kecil yang mengutip tangkapan di Sungai Sesayap menghabiskan minimal 5 liter untuk bahan bakar mesin perahu.

Kenaikan drastis hingga ke tingkat pengecer, sontak mengakibatkan biaya operasional turut membengkak.

Baca juga: Imbas Kenaikan BBM, Warga KTT Sikapi Tarif Speedboat Naik, Pilih Pakai Kapal Feri Jika tak Mendesak

Bahkan ada beberapa rekanannya yang urung turun melaut karena hasil tangkapan tidak mampu menutupi biaya sehari-hari.

"Hitung saja satu hari kita butuh 5 liter. Kalau kemarin-kemarin kan Rp 50 ribu eceran. Kalau sekaramg naik Rp 12 ribu, jadi Rp 60 liter sudah, itu baru BBM, belum makanan dan lain-lain," keluh Hasan.

Keluhan lain yang turut disuarakan nelayan adalah sulitnya nelayan kecil memperoleh BBM bersubsidi. Padahal nelayan berhak memperoleh BBM harga subsidi.

Ketua Kelompok Nelayan Imbayud Taka Malinau Seberang, Hasan saat menyampaikan persoalan nelayan kepada tim Terpadu Pemkab Malinau, di Kantor Bupati Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa hari lalu.
Ketua Kelompok Nelayan Imbayud Taka Malinau Seberang, Hasan saat menyampaikan persoalan nelayan kepada tim Terpadu Pemkab Malinau, di Kantor Bupati Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, beberapa hari lalu. (TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI)

Jika di wilayah lain, nelayan memperoleh BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar khusus nelayan atau SPBN, di Malinau, nelayan harus membeli dari pengecer.

"Kalau SPBU khusus nelayan itu nda ada di sini. Kalau di SPBU (APMS) juga kita mana boleh ambil pakai jerigen, jadi harus ngisi di motor, itulah kita pakai. Tapi rata-rata kami beli eceran," katanya.

Baca juga: Solar Langka dan Harga BBM Naik, Nelayan di Tanah Kuning Bulungan Keluhkan Semakin Sulit Melaut

Diwawancarai terpisah, Ketua DPC Pusaka Malinau, Abdul Samad meminta agar pemerintah kabupaten memikirkan solusi jangka panjang atas penderitaan yang dialami nelayan.

"Harus ada jangka panjang yang secara nyata dirasakan nelayan kita. Mulai kompensasi sampai restocking ikan di sungai itu. Semua perusahaan tambang dan pemda juga harus ikut mensejahterakan nelayan di kondisi sulit begini," ujarnya saat ditemui seusai mendampingi Nelayan menemui Pemerintah Kabupaten Malinau.

 

 

 

 

 

 

 

 


(*)

Penulis : Mohammad Supri

 

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved