Berita Tarakan Terkini

Mengenal Kepala BINDA Kaltara, Pengalaman Pertama Memimpin BIN Provinsi Termuda di Indonesia

Mengenal Kepala BINDA Kaltara, Marsma TNI Aminul Hakim, pengalaman pertama memimpin BIN Provinsi termuda di Indonesia: Sempat juga pindah ke Setneg.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
Marsma TNI Aminul Hakim, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA) Provinsi Kaltara. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Provinsi Kaltara resmi berganti.

Marsma TNI Aminul Hakim resmi menggantikan Brigjend TNI Andi Sulaiman dan mulai bertugas per Juli 2022 sebagai Kabinda Provinsi Kaltara.

Pria kelahiran, Padang 17 September 1967 ini mengakui, Kaltara menjadi provinsi pertama dan provinsi termuda di Indonesia tempat ia bertugas sebagai kepala BIN.

Aminul Hakim, lulus AKABRI Akademi Angkatan Udara (AAU) pada tahun 1991. Selanjutnya mengikuti sekolah penerbang.

Baca juga: Empat Speedboat Reguler Rute Tarakan-Malinau  Siap Berangkat Siang Ini, Cek Jadwalnya

Aminul Hakim, pertama kali berdinas di Jakarta. Ia mengikuti pendidikan Intelijen di Silendek, Kemudian setelah pendidikan, ia dinas pertama kali di NTT Kupang, Lanud Eltari dari tahun 1993 sampai 1996.

Kemudian 1996 dikatakan Aminul, ia berpindah ke Surabaya di Lanud Surabaya sampai tahun 1997. Selang setahun, berpindah ke Pekan Baru Riau sampai tahun 2003.

“Saya sempat juga pindah ke Setneg, di kesekretariatan militer Presiden dari pangkat kapten sampai pangkat kolonel 14 tahun di sana,” beber Aminul Hakim.

Masuk tahun 2018 awal, ia kemudian pindah ke BIN. Lalu berdinas di Banten selama tiga tahun sebagai Korwil Barat saat itu di antaranya meliputi wilayah Cilegon, Pandeglang, lebak, Kota Serang, Kabupaten Serang Korwil.

Setelah itu pindah ke Jakarta Pusat selama 1 tahun sebagai Kasubdit Sumatera 1 membawahi wilayah Aceh, Sumut, Riau, Sumbar, Kepri. Dari Jakarta Pusat, tahun 2022 ia dipercayakan memimpin BINDA Kaltara. Artinya ini adalah pengalaman pertama menjabat sebagau Kepala BIN di Kaltara.

Memperlajari situasi kondisi di Kaltara, ia menyampaikan, ada banyak pekerjaan rumah yang harus dilesaikan karena Kaltara memiliki pintu masuk perbatasan.

“Masalah perbatasan menjadi atensi. Kalau konflik sosial di Kaltara tidak begitu mendominasi. Yang paling menjadi perhatian juga kita tahu bersama persoalan narkotika,” ujarnya.

Menurutnya, Kaltara hanya perlintasan bukan lokasi penyebaran, namun ini menjadi daerah empuk buat bandar narkoba melewatkan barangnya di sini termasuk Tarakan.

“Jalan tikus cukup banyak dan paling gampang memasukkan dari wilayah seberang ke sini. Termasuk penyelundupan barang masuk dan keluar,” bebernya.

Persoalan pengiriman TKI menurutnya, kasusnya relative sedikit dari Tarakan. Kecuali PMI yang dideportasi dari negara tetangga. Ia menyebutkan, persoalan TKI illegal yang kerap ditemukan keluar itu ada di Sumatera.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved