Senin, 4 Mei 2026

Masyarakat Diminta untuk Tidak Overthinking Menghadapi Ancaman Resesi Tahun Depan

Masyarakat diminta untuk tidak overthinking menghadapi ancaman resesi tahun 2023.

Tayang:
Freepik.com
Ilustrasi ekonomi Indonesia resmi resesi. Masyarakat diminta untuk tidak overthinking menghadapi ancaman resesi tahun 2023. 

TRIBUNKALTARA.COM - Masyarakat diminta untuk tidak overthinking menghadapi ancaman resesi tahun 2023.

Menurut akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali, Sejumlah orang keliru memahami resesi.

"Kata resesi begitu menakutkan dan sering diucapkan belakangan ini.

"Padahal kita baru saja melewati satu peristiwa resesi belum lama.

Resesi yang dimaksud Rhenald Kasali dalam hal ini adalah kejadian pada tahun 2020 ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia kemudian mengalami kemunduran selama 3 kuartal berturut-turut.

"Selama pandemi, bangsa mana yang tidak mengalami resesi?

"Hampir semuanya mengalami karena harus meningkatkan utang, jadi menggunakan strategi defisit, yaitu pendapatannya berkurang tapi spendingnya harus ditingkatkan demi menyelamatkan rakyatnya.

Salah satunya dengan membeli vaksin dan diberikan secara cuma-cuma kepada warganya. Bahkan Bukan 1 kali tetapi beberapa kali.

Terus ada juga BLT dan lain sebagainya.

"Jadi resesi ini sekarang menjadi sangat menakutkan karena disampaikan juga oleh tokoh-tokoh publik dan kemudian diterjemahkan oleh sejumlah orang.

Bahkan dikatakan akan terjadi PHK massal besar-besaran.

Kemudian diterjemahkan secara bisnis.

"Katanya jangan berinvestai, tahan cash, jualan online segera akan terganggu, oleh karena itu tahan stok, jangan punya stok besar-bearan, kalaupun beli, mereka akan beli yang murah-murah, tidak akan melakukan pembelian dalam jumlah yang cukup.

Terang Rhenald Kasali, lebih menarik lagi, banyak yang menyarankan untuk tidak memberikan marketing budget.

Diterangkan Rhenald Kasali, strategi tersebut justru bertentangan dengan pendapat para ahli bisnis dari Harvard University dalam buku Global Recession.

"Saya baru saja mendapat sebuah buku berjudul Global Recession yang ditulis ahli bisnis dari Universitas Harvard.

"Ada salah satu bagian dalam buku itu menyebutkan "Don't cut your marketing budget in a recession (jangan memotong marketing budget Anda selama masa resesi)," ujar Rhenald Kasali dikutip TribunKaltara.com dari chanel Youtubenya Prof. Rhenald Kasali.

Sejumlah orang keliru memahami resesi.

Menurutnya, resesi itu adalah terminologi di dalam makro ekonomi. Sedangkan bisnis berjalan dalam landasan yang berbeda.

"Apa sih bedanya? Makro itu bicara tentang negara, sesuatun yang besar. Mikro bicaranya ya perusahaan atau usaha Anda. Ini adalah dua hal yang berbeda.

"Strategi di sini adalah strategi yang bersifat rata-rata. Sehingga kemudian kita bicaranya pendapatan nasional atau pendapatan perkapita.

"Kemudian kita jumlahkan secara menyeluruh. Makanya semuanya harus homogen. Kita sebutnya sebagai komditi.

"Kemudian kita juga membicarakan hal-hal yang bersifat strategi negara dalam menangani masalah-masalah seperti kemiskinan, pengangguran, inflasi.

"Kemudian bagaimana strategi fiskal, strategi moneter, mendatangkan investasi asing, mendorong perekonomian, pertumbuhan.

Itu semua adalah strategi negara yang tidak selalu dapat kita terjemahkan ke dalam bisnis.

Ujarnya, bisnis ini landasannya adalah segmentasi.

"Artinya, Anda bergerak dalam segmen-segmen. Contohmnya, Anda naik pesawat saja, kelasnya beda-beda, kelas bisnis bangkunya lebih lebar, dapat makan.

"Jadi ada segmen yang tidak sama sehingga kemudian kita mengenal ada barang yang sama namun ditawarkan pada segmen yang lebih mahal karena brandnya berbeda.

"Kita bicara branding, kita bicara gaya hidup, kita bicara tentang produk.

"Nah kalau sudah begitu, hati-hati ketika kemudian kita terjemahkan bahwa kita harus menahan uang, jangan spending, ini justru akan mengakibatkan kita memasuki era yang disebut depresi.

"Jadi dari resesi, depresi, lalu stagnasi, stagflasi.

Lanjutnya, resesi jangan disikapi dengan overthinking, jangan melebih-lebihkan, pengertiannya harus dikuasai dulu.

Apalagi jangan sampai resesi didramatisasi.

"Percaya deh omongan gue, yang miskin makin msikin, yang suah tambah susah. Ya jangan begitu, situasinya memang tidak sama.

"Apa yang bisa kita sarankan? Pertama, hati-hati terminologi makro dengan terminologi mikro.

"Kedua, ingat dalam setiap hal yang berbahaya selalu ada kesempatan.

Ada orang yang melihat resesi itu bahaya, tapi ada juga yang melihatnya sebagai peluang.

Ada juga persepsi bahwa dalam masa resesi, maka yang terkena itu adalah sektor-sektor tertentu.

Karena di dalam definisi resesi, itu juga terjadi penurunan retail sales, juga wholesale sales.

"Jadi orang melihatnya sektor. Ditambah lagi sektor keuangan. Misalnya saja penjualan saham juga pembiayaan perbankan, juga properti karena orang pinjam uang. Bunga naik, maka kemudian orang memgurangi konsumsi.

Ini juga pendapat yang keliru.

"Karena pertanyaannya adaah bukan bisnis apa yang terganggu oleh resesi? Melainkan bisnis yang bagaimana yang tidak terganggu oleh resesi?

"Jadi, dalam setiap saat itu, baik resesi atau tidak, ada kok bisnis yang bagus, ada juga sebaliknya.

"Nah yang terakhir, ini adalah juga kesalahpahaman bahwa strategi yang kita gunakan adalah tradisional. Yaitu operational excellence strategy dengan hemat biaya, disiplin, ternyata ini bisa mengakibatkan penjualan terpuruk. dalam situasi tertentu operational excellence strategy tidak bisa digunakan . Perhatikan benar-benar perilaku yang berubah.

Resesi memang mengubah masyarakat, diantaranya tentu saja mereka akan mencari value for money, mencari barang yang lebih murah, local brand.

Dalam situasi krisis, strategi komunikasi juga harus beradptasi.

Resesi jangan selalu dilihat sebagai sesuatu yang berbahaya, kemungkinan juga di sana ada kesempatan.

Secara defenisi, resesi adalah ketika ekonomi suatu negara itu tumbuh negatif selama lebih dari satu kuartal berturut-turut.

(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved