Berita Tarakan Terkini

Kadar Polietilen Glikol Lebihi Batas Standar, Hasil Sampel Darah Pasien Gagal Ginjal Akut di Tarakan

dr Devi Ika Indriarti, kepala Dinkes Taraksn mengatakan, dari hasil sampel obat sirup yang dikirim ternyata tidak cukup dilakukan pemeriksaan.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/RISNAWATI
Wawancara bersama dr.Devi Ikan Indriarti, Kepala Dinkes Kota Tarakan terkait update terbaru hasil pemeriksaan sampel kasus Gagal Ginjal Akut. 

TRIBUNKALTARA,COM, TARAKANDinkes Tarakan, sudah menerima update terkini hasil pemeriksaan sampel dari kasus gagal ginjal akut di Tarakan, Kalimantan Utara dan ditemukan satu kasus meninggal dunia.

Dikatakan Kepala Dinkes Tarakan, dr Devi Ika Indriarti, berdasarkan hasil pengiriman sampel kasus gagal ginjal akut sudah diterima pasca dikirim langsung dari rumah sakit yang mengirimkan, ternyata ada sampel yang tidak cukup untuk dilakukan pemeriksaan.

“Kalau dilihat, hasil sampel obat sirup yang dikirimkan itu ada yang habis dan ada juga yang hasilnya nggak cukup untuk pemeriksaan. Jadi hasil sampel itu berdasarkan jumlah pemeriksaan sampel darah yang dilakukan kepada pasien,” beber dr Devi Ika Indriarti, Kepala Dinkes Tarakan.

Baca juga: Warganya Meninggal Gegara Gagal Ginjal Akut, Ini Kata Kepala Desa Apung Tanjung Selor

Devi melanjutkan, karena selain sampel obat sirup, juga sampel darah dari pasien gagal ginjal akut juga diikutsertakan dalam pengiriman. Hasilnya kata dr Devi Ika Indriarti, dinyatakan bahwa kadar polietilen glikolnya memang di atas batas ambang.

“Tapi kita tidak tahu, dari kadar polietilen glikolnya itu, berasal dari obat sirup apa yang menyebabkan karena sampel obat sirup kosong, tapi sampel darahnya memang ditemukan melebihi ambang batas,” ujarnya.

Untuk diketahui kemarin saat pengiriman sampel, ada empat botol obat sirup diperiksa. Tiga botol yang diresepkan dari puskesmas dan satu botol dari yang diperoleh orangtua pasien gagal ginjal akut dibeli di apotek.

Baca juga: Bayi Bulungan Meninggal di Makassar karena Gagal Ginjal Akut, Orangtua Utang buat Pulangkan Jenazah

Di sini ia juga menegaskan kembali bahwa obat sirup yang dikonsumsi pasien gagal ginjal akut yang diresepkan puskesmas saat itu adalah sebelum keluar atau terbitnya instruksi Menkes terkait pelarangan peredaran obat sirup. Dan sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien juga sempat membeli di apotek.

Kembali dikonfirmasi jika sampel isi botol sirup tidak bisa diperiksa karena tidak cukup, apakah dari wujud fisik botol dan merek juga sudah bisa diperiksa dan sama dengan yang diumumkan BPOM untuk dilarang peredarannya?

Menjawab ini, dr Devi Ika Indriarti menegaskan, untuk kasus ini harus hati-hati dalam menetapkan pernyataan.

“Kita harus cocokkan nomor basenya dan sampel obatnya ada atau nggak. Kalau sampel obatnya tidak ada, kami tidak bisa sampaikan kalau itu penyebabnya. Tapi di sampel darahnya memang ditemukan jumlah polietilen glikolnya itu melebihi batas standar. Tapi tidak disebutkan darimana obatnya,” tegasnya sekali lagi.

ILUSTRASI - Gagal Ginjal Akut. (TribunKaltara.com)
ILUSTRASI - Gagal Ginjal Akut. (TribunKaltara.com) (TribunKaltara.com)

Sementara berbicara penyamaan merek lanjutnya, menjadi tupoksi BPOM untuk penentuan ini. Karena lanjutnya, BPOM juga merilis lima industry farmasi yang sudah diberikan sanksi dan dicabut izin edar untuk produknya.

Kemudian lanjutnya, untuk proses retur obat, pihaknya siap melaksanakan pengawasan jika ada obat yan dilarang peredarannya berdasarkan hasil pemeriksaan BPOM.

Baca juga: Anaknya Meninggal Karena Gagal Ginjal Akut, Orangtua GA Harapkan Bantuan, Ini Kata Dinkes Bulungan

“Kalau BPOM larang, maka kami akan menginstruksikan untuk ditarik. Tapi sekarang kami harus berpikir soal biaya pengiriman obatnya, karena ini obat sirup. Jadi harus dipikirkan dulu. Namun yang jelas kalau obat itu dilarang sesuai dengan yang dikatakan BPOM, pasti sudah kami tidak ada dipusat layanan kesehatan.Pasti dikembalikan,” jelasnya.

Namun kembali lagi, proses retur harus dikoordinasikan terlebih dahulu. Ia juga menjawab apakah dari beberapa item obat yang dirilis dilarang beredar sudah dilaksanakan oleh Dinkes Tarakan. Ia tegas menjawab, saat ini aturan dari Kemenkes masih berlaku untuk penarikan sementara sediaan obat sirup bebas dan terbatas.

“Ini sudah pelarangan untuk apotek dan faskes, jadi bagaimana bisa dikatakan ada peredaran, karena harus melihat waktu kapan dikeluarkan pelarangan dan kapan diedarkan obat sirup  itu, jangan sampai masyarakat salah kaprah,” pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved