Berita Malinau Terkini

Ketekunan Pengrajin Rotan Dayak Punan Malinau, Dilatih Sejak Kecil dan Terampil Hasilkan Kerajinan

Diajari mengayam rotan sejak umur belasan tahun, ini ketekunan pengrajin rotan Dayak Punan Malinau, dikenal terampil hasilkan kerajinan anyaman rotan.

Penulis: Mohamad Supri | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM / MOHAMMAD SUPRI
Pengrajin asal Bila Bekayuk Malinau Selatan, Lukas (68) saat memajang sejumlah kerajinan tangan miliknya dalam Pentas Seni dan Budaya Lembaga Adat Besar Dayak Punan Kabupaten Malinau di Lansekap Pro Sehat Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (29/11/2022). 

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Pengrajin Dayak Punan Malinau, Kalimantan Utara dikenal dengan keterampilannya mengolah kerajinan tangan berbahan baku hasil hutan.

Kebiasaan masyarakat adat Punan di Malinau mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari alam untuk digunakan membantu keperluan sehari-hari.

Pengrajin asal Bila Bekayuk di Malinau Selatan, Lukas menyebut sejak mencapai usia di atas 12 tahun, anak-anak diajari untuk mampu menghasilkan sendiri karya kerajinan.

Sejumlah karya tangan tersebut diperuntukkan untuk kebutuhan sehari-hari. Mulai dari topi, tas hingga peraltan berburu dikerjakan secara tradisional.

Baca juga: UMK Malinau 2023 Naik Rp 246.219,55, Serikat Pekerja Malinau Sebut Masih Jauh dari Upah Layak

Lansia berusia 68 tahun tersebut menjelaskan proses pembuatan karya tangan miliknya.

Diantaranya Labung Hat, sejenis topi dari anyaman rotan.

Ketekunan dan kesabaran adalah unsur penting dalam membuat karya dari hasil hutan.

Lukas mengiluatrasikan proses pembuatan Labung Hat yang dikenakannya. Butuh waktu sekira 2 minggu baru penutup kepala tradisional bisa selesai.

"Topi ini kalau sebutan kami namanya Labung Hat, kalau yang sudah biasa buatnya bisa 2 minggu. Terbuat dari rotan yang diraut kecil, dianyam melingkar dari atas ke bawah," ujarnya, Selasa (29/11/2022).

Tingat kesulitan dalam membuat produk kerajinan berbanding sama dengan harga jual.

Semakin sulit dan rumit proses pembuatannya, semakin bertambah pula nilai jualnya. Harga jual bervariasi mulai Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu.

Karya tangan lain buatan tangan pengrajin masyarakat Punan lainnya adalah Anjat. Bentuknya menyerupai tas punggung yang dianyam dari rotan.

Bagi tangan terampil, pembuatan Anjat biasanya tak sesulit kerajinan lain.

Bergantung tingkat kerapatan dan rotan yang digunakan, proses pembuatan memakan waktu satu atau dua hari. Biasnyadi jual seharga Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved