Berita Tarakan Terkini
Pasca Hari Raya Idul Adha, Nihil Temuan Penyakit Antraks dan PKM pada Hewan Kurban di Tarakan
Dalam penyembelihan hewan kuran pada saat Hari Raya Idul Adha beberapa waktu lalu, semua hewan kurban di Tarakan seblum disembelih diperiksa kesehatan
Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Pasca penyembelihan hewan kurban di momen Hari Raya Idul Adha beberapa waktu lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan tidak menemukan kasus penyakit Antraks dan PMK termasuk penyakit lainnya yang berbahaya dikonsumsi masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan, Elang Buana mengungpkan, sebelum dilakukan penyembelihan hewan kurban, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan post mortem di beberapa lokasi di Tarakan, Kalimantan Utara.
“Hasil pemeriksaan ini tidak ditemukan. Selama ini belum ditemukan penyakit penyakit PMK, termasuk antraks zoonosis dan yang lain-lainnya,” terang Elang Buana, Rabu (5/7/2023).
Ia menjelaskan, memang selama ini belum ada PMK ditemukan di Tarakan dan diharapkan jangan sampai ada kasus PMK ditemukan. Ia juga menilai jumlah pemotongan atau penyembelihan hewan kurban kemarin diperkirakan menurun sampai tujuh persen.
Baca juga: Masjid Agung Malinau Sembelih 7 Hewan Kurban, Total 600 Lebih Daging Dibagikan
“Kalau dilihat kualitas dan kuantitasnya ya, jumlahnya kelihatannya menurun. Ini sedang direkap tapi jelas menurun,” ungkap Elang Buana.
Penurunan ini lanjutnya, kemungkinan pertama lihat situasi kondisi sama halnya dengan konsisi harga udang dan rumput laut termasuk harga ayam. “Seperti harga udang, harga rumput laut kemudian peternakan ayam yang agak mengalami penururan beberapa bulan terakhir mengalami kerugian,” terangnya, he eh.
Elang Buana juga menjawab persoalan keberadaan cacing ditemukan dalam hati sapid an menurutnya itu hal biasa jika dalam jumlah sedikti.
“Kalau cacing itu hal yang biasa. Ada beberapa itu kan jumlahnya relatif. Kalau memang terlalu banyak jadi parasit. Tapi kalau sedikit tidak ada masalah untuk hati. Kalau sedikit, gak apa layak dimakan,” terang Elang Buana.
Baca juga: Polres Tana Tidung Bakal Pantau Kelayakan Hewan Kurban untuk Disembelih, Koordinasi dengan DPPP
Namun berbeda jika kondisinya sudah mengalami pengapuran. Maka hati yang berada dalam kondisi tersebut tidak layak dikonsumsi. “Jadi ada beberapa memang yang sudah mengalami pengapuran, hati tidak layak dikonsumsi,” ujarnya.
Persoalan maraknya kasus antraks di Jogja ia tanggapi bahwa selama tidak ada media pembawa masuk maka tidak akan ditemukan. Termasuk juga persoalan rabies.
“Pertama, kita ini melihat seperti hewan pembawa rabies ya seperti anjing kucing, kemudian monyet, kelelawar. Nah, di Tarakan misalnya ada kasus beberapa gigitan anjing tapi dilihat dari jenis anjingnya bukan rabies dan kita sering ngambil sampel uji rabies di beberapa tempat juga termasuk Balai Veteriner Banjarbaru ya berkala insyaAllah selama ini di Tarakan belum ditemukan,” ujarnya.
Antisipasi kedua, anjing datang ke Tarakan misalnya dari Surabayar harus yang bebas rabies. “Jadi anjing yang dikirim datang ke Tarakan misal dari Suurabaya kita antisipasi, ke sini tidak berasal dari daerah rabies. Misalnya terjadi di NTT kita larang,” tukasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/pemotongan-hewan-kurban-di-tarakan-05072023.jpg)