Kamis, 14 Mei 2026

Berita Nasional Terkini

Pernah Jadi Sekjen Pertama PAN, Ekonom Senior Faisal Basri Tutup Usia Hari Ini, Simak Profilnya

Profil Faisal Basri, ekonom senior dengan pemikiran kritis yang pernah jadi Sekretaris Jenderal PAN pertama meninggal dunia hari ini di usia 65 tahun.

Tayang:
Kompas.com/Antonius Aditya Mahen
Ekonom sekaligus mantan Sekjen pertama PAN, Faisal Basri meninggal dunia hari ini, Kamis (5/9/2024). 

TRIBUNKALTARA.COM - Kabar duka datang dari Faisal Basri, ekonom senior Indonesia yang kerap melontarkan kritik pedas kepada pemerintah ini meninggal dunia di usia 65 tahun, Kamis (5/9/2024) pukul 03.50 WIB.

Kabar berpulangnya Faisal Basri bin Hasan Basri Batubara ini dikonfirmasi oleh Staf khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo.

"Iya, kami sudah menerima infonya juga," ujar Yustinus saat dihubungi Kompas.com, Kamis.

Berdasarkan informasi yang diterima Kompas.com dari pihak keluarga almarhum, Faisal Basri meninggal dunia di Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, Jakarta.

Diketahui, jenazah Faisal Basri akan disemayamkan di rumah duka, tepatnya di Kompleks Gudang Peluru Blok A 60, Jakarta Selatan.

“Info pemakaman berangkat sekitar ba’da ashar dari Mesjid Az Zahra, Gudang peluru, Tebet, Jakarta Selatan,” tulis pihak keluarga.

Sosok ekonom yang dikenal kritis itu kini telah tiada, lantas siapakah sosok Faisal Basri yang meninggal dunia hari ini? Simak profilnya.

Faisal Basri
Ekonom Faisal Basri tutup usia. (Kompas.id/Elsa Emiria Leba)

Profil Faisal Basri

Dikutip dari Kompaspedia, Faisal Basri adalah anak dari pasangan Hasan Basri Batubara dan Saidah Nasution.

Ia lahir di Bandung, Jawa Barat pada 6 November 1959.

Faisal Basri juga dikenal sebagai salah satu keponakan mantan Wakil Presiden Adam Malik.

Pemilik nama asli Faisal Nur Fiqih itu merupakan lulusan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (UI).

Sebelum itu, ia pernah bersekolah di SMA Negeri 3 Jakarta.

Selama menjadi mahasiswa, Faisal aktif dalam berbagai kegiatan kampus, salah satunya terlibat dalam gejolak melawan Normalisasi Kegiatan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) era Orde Baru.

Lulus dari UI tahun 1985, Faisal Basri melanjutkan pendidikan S2 dan berhasil meraih gelar Master of Arts bidang ekonomi di Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika (1988).

Perjalanan Karier

Faisal Basri sempat bekerja sebagai peneliti dengan pangkat Junior Reseaercg Assistant di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1981.

Tak berhenti di situ, perjalanan karier Faisal Basri berlanjut sebagai Wakil Direktur LPEM pada 1991 dan Direktur LPEM tahun 1993.

Putra berdarah Batak Mandailing ini juga dikenal aktif sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI.

Ia mengajar untuk sejumlah mata kuliah seperti Ekonomi Politik, Ekonomi Internasional, Ekonomi Pembangunan, dan Sejarah Pemikiran Ekonomi.

Faisal juga erupakan pengajar pada Program Magister Akuntansi (Maksi), Program Magister Manajemen (MM), Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan (MPKP), dan Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Sang ekonom pernah menerima penghargaan selaku Dosen Teladan III UI.

Dirinya juga pernah diamanatkan menjadi Ketua Jurusan ESP (Ekonomi dan Studi Pembangunan) FEBUI (1995-1998) dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta (1999-2003).

Ia merupakan pendiri Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) (1995-2000).

Selain mengajar, Faisal Basri juga kerap menulis buku dan artikel di berbagai jurnal serta media massa.

Karier di Politik dan Pemerintahan

Faisal Basri adalah salah satu pendiri Majenis Amanah Rakyat (MARA) yang menjadi cikal bakal Partai Amanat Nasional (PAN) di masa awal reformasi.

Semenjak itulah, ia ditunjuk menjadi Sekretaris Jenderal PAN pertama pada 1998-200.

Pada Januari 2001, Faisal Basri memutuskan munur dari PAN, namun tetap aktif di politik dengan mendirikan organisasi Pergerakan Indonesia.

Pada 2004-2010, ia pernah menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional sejak Kongres I.

Tahun 2012, Faisal Basri maju sebagai calon gubernur pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta melalui jalur independen.

Namun, ia kalah dengan pasangan calon lain yakni Joko Widodo, Fauzi Bowo, dan Hidayat Nur Wahid.

Keahliannya di bidang ekonomi pernah mengantarkan dirinya menjadi Pakar Ekonomi pada P3I DPR RI pada 1994-1995.

Dirinya juga dipercaya menjadi Tenaga Ahli pada proyek di lingkungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, Ditjen Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi pada 1995-1999.

Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Faisal Basri pernah ditunjuk sebagai tim ahli Satuan Tugas Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved