Batik Lulantatibu Diminati Malaysia, Ketua UMKM Beber Kendala Produksi Batik Khas Nunukan

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua UMKM Nunukan, Robianto menunjukkan batik khas Nunukan, batik Lulantatibu beberapa waktu lalu. (TribunKaltara.com / Febrianus Felis)

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Kualitas batik Lulantatibu diminati Malaysia, Ketua UMKM beber kendala produksi batik khas Nunukan.

Ketua UMKM Kabupaten Nunukan, Robianti mengatakan Kabupaten Nunukan memiliki lima motif khas batik daerah dengan nama Lulantatibu.

Batik khas Nunukan,  Lulantatibu diambil dari gabungan nama sejumlah pribudi yang menghuni Kalimantan Utara, yakni Dayak Lundayeh, Dayak Tagalan, Dayak Taghol, Dayak Tidung dan Bulungan.

Bahkan, lima motif batik ini sudah memiliki hak cipta dan historis sesuai kebudayaan masing-masing.

"Progres batik di Nunukan sudah cukup baik. tapi perlu ditingkatkan lagi produksi dan pasarannya.

Bicara batik khas daerah itu suatu kekayaan budaya untuk terus dilestarikan," kata Robianti kepada TribunKaltara.com, Sabtu (24/10/2020) saat ditemui di 93 Food Court, Nunukan, Kalimantan Utara.

Robianti mengaku kelima batik khas Nunukan tersebut kualitasnya mampu bersaing dan patut dikembangkan.

Pasalnya, batik Lulantatibu memiliki cerita tersendiri, sehingga itu menjadi nilai jual yang tinggi.

Sejauh ini, UMKM Nunukan telah menggandeng sejumlah mitra untuk pemasaran dan pengembangan batik Lulantatibu.

"Kita punya mitra seperti Pariwisata, Bank Indonesia, dan Dinas Perdagangan, dan beberapa BUMN" ujar Ibu lima anak ini.

Baca juga: Operasi Yustisi di Kabupaten Malinau, Sasar Keramaian & Tempat Hiburan, Ini Temuan Petugas Gabungan

Baca juga: Genoa vs Inter Milan di Liga Italia,Live Streaming beIN Sports Tonton di HP

Baca juga: Live Streaming Man United vs Chelsea, Big Match Liga Inggris, Menanti Debut Edinson Cavani Malam Ini

Baca juga: Barcelona vs Real Madrid Big Match Liga Spanyol, Saksikan Live Streaming El Clasico di beIN Sports

Kendati demikian, produksi batik khas Nunukan saat ini terhambat, lantaran impor bahan baku termasuk pewarna selama ini berasal dari China.

"Semenjak pandemi covid-19, produksi batik sedikit terhambat, karena bahan baku dan pewarna itu berasal dari China," ungkap manajer 93 Food Court Nunukan ini.

Robianti menambahkan, batik khas Nunukan sudah disukai negara tetangga, Malaysia sejak lama.

Lantaran, sejak 2014 melalui Dinas Pariwisata Nunukan mempopulerkan batik Lulantatibu pada Wonderful Indonesia sekaligus pameran batik di Tawau, Malaysia.

Halaman
12

Berita Terkini