Berita Malinau Terkini

Kesenian Daerah Tari Perang Ulong Da’a, Simbol Penghormatan Tamu Suku Dayak di Kaltara

Penulis: Mohamad Supri
Editor: Junisah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pertunjukan Tari Perang Ulong Da'a yang diperankan oleh Penggiat Seni Sanggar Seni Dayak Lengilo' Ulong Da'a Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara.

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Pertunjukan utama dimulai. Sontak, suasana berubah tegang. Gerak tarian berubah menyesuaikan tempo musik iringan. Seketika, barisan penari mengatur jarak membentuk lingkaran.

Dua penari mengisi ruang tengah, mulai memerankan adegan puncak. Keduanya saling serang-bertahan, dipersenjatai perisai dan senjata tradisional, golok khas suku dayak. Keduanya berganti peran, saling serang dan bertahan.

Lantunan musik pengiring terdengar bertambah cepat, suara senjata saling beradu menambah tegang suasana. Sesekali penari meneriakkan suara melengking. Denting besi dan dentum golok bertemu perisai membuat pertunjukan semakin mencekam. Pertunjukan berhasil menyihir khalayak, membuat siapapun yang menyaksikan adegan serasa sedang berada di medan perang.

Baca juga: Wariskan Budaya Lewat Kesenian, Pelatih Tari Tradisional Malinau Beber Tantangan Pandemi Covid-19

Adegan tersebut merupakan cuplikan sajian utama sekaligus adegan penutup tarian tradisional khas suku adat Dayak, Tari Perang Ulong Da’a. Seni gerakan tradisional tersebut sangat terkenal di Kabupaten Malinau. Kesenian daerah tersebut diperankan oleh peggiat kesenian daerah, Sanggar Seni Dayak lengilo’ Ulong Da’a Malinau.

Tari Perang Ulong Da’a merupakan warisan budaya leluhur masyarakat adat dayak yang mendiami dataran tinggi Borneo. Tari tradisional mulai mencuri perhatian publik setelah sukses dipertontonkan saat kunjungan pertama Presiden RI, Joko Widodo di Bumi Intimung tahun 2019 silam.

Kesenian daerah tersebut sarat filosofi dan menyimpan sejarah panjang bagian kehidupan suku adat di wilayah Kalimantan Utara. TribunKaltara mewawancari salah satu generasi perintis Sanggar Seni Ulong Da’a di Kabupaten Malinau, Tirusel Samuel Tipa Padan.

Baca juga: Bupati Nunukan Harap KORMI Hidupkan Olahraga Tradisional, Siap Dukung Sarana dan Prasarana

Panglima Sanggar Seni Dayak Lengilo’ Ulong Da’a Malinau tersebut bercerita, dulunya tari perang tersebut merupakan bagian dari prosesi kebesaran masyarakat adat dayak di dataran tinggi Borneo. Tari Perang hanya digelar dalam upacara khusus. Prosesi selebrasi perang untuk menyambut pejuang yang memenangkan peperangan di medan tempur.

Dahulu kala, prosesi tersebut menjadi bagian dari upacara sebagai simbol kebesaran dan kehormatan terhadap pejuang masyarakat adat yang menghuni dataran tinggi Kaltara, yang kini merupakan bagian dari wilayah administrasi di Kabupaten Nunukan, Krayan.

“Dulu, Tari perang merupakan bagian dari prosesi penyambutan khas yang diwariskan leluhur kami. Jadi tarian ini adalah bagian dari upacara kesyukuran atas keberhasilan dan jasa pejuang mempertahankan martabat masyarakat adatnya,” ujarnya.

Pertunjukan Tari Perang Ulong Da'a yang diperankan oleh Penggiat Seni Sanggar Seni Dayak Lengilo' Ulong Da'a Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. (TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI)

Seni gerak tradisional daerah tersebut sebelumnya hanya dinikmati kalangan terbatas. Pertunjukan seni terbatas tersebut kini bisa dinikmati oleh semua golongan. Tari perang kerap dipertontonkan saat penyambutan tamu kehormatan yang berkunjung ke kabupaten Malinau. Menjadi simbol kemuliaan dan penghormatan masyarakat Malinau kepada tamunya.

Halaman
123