Berita Malinau Terkini

Kesenian Daerah Tari Perang Ulong Da’a, Simbol Penghormatan Tamu Suku Dayak di Kaltara

Penulis: Mohamad Supri
Editor: Junisah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pertunjukan Tari Perang Ulong Da'a yang diperankan oleh Penggiat Seni Sanggar Seni Dayak Lengilo' Ulong Da'a Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara.

Sanggar seni yang kini beranggotakan 26 orang tersebut juga kerap mengisi prosesi penyambutan tamu di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Utara. Tari perang merupakan jenis tarian khas yang menjadi kesenian daerah unggulan Sanggar Seni Dayak Lengilo’ Ulong Da’a.

Tari-tarian ini dipadu dengan iring-iringan musik khas daerah. Koreografi dengan ciri khusus budaya masyarakat adat Dayak juga dikenal dengan nilai filosofinya. Tarian dibuka dengan prosesi pemotongan rotan oleh tamu undangan.

Tirusel menjelaskan prosesi tersebut bermakna penerimaan masyarakat kepada tamu. Menandakan sekat antara “pemilik rumah” dan pelaksana prosesi pemotongan rotan telah diputus. Menandakan tamu undangan adalah satu bagian Tamu beserta rombongannya berada di bawah perlindungan masyarakat adat selaku pemilik rumah.

Baca juga: Makna dibalik Tarian Jugid Demaring Asli Bulungan, Sensuswati Datu Perdana Beber Pantangannya

“Prosesi pemotongan rotan ini menandakan pemotongnya merupakan bagian dari kami. Ini juga melambangkan tidak ada sekat setelah rotan diputus. Bentuk kemuliaan dan kehormatan tamu yang datang berkunjung ke Bumi Intimung,” ungkapnya.

Pria bertubuh tinggi semampai tersebut merupakan Panglima atau perwakilan masyarakat adat dalam prosesi sacral tersebut. Diantara barisan pelaksana prosesi, Tirusel berdiri di barisan paling hadapan, menyambut sekaligus mengiringi kedatangan tamu kehormatan.

Prosesi tarian perang tersebut terdiri dari sejumlah komponen wajib yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upacara tersebut. Diantaranya, iring-iringan musik, atribut yang dikenakan pelaksana prosesi, perlengkapan perisai dan senjata tradisional dan monumen khusus yang menginspirasi penamaan sanggar seni tersebut, Ulong Da’a.

Dijelaskan Tirusel, Ulong Da’a merupakan lambang kebesaran suku Dayak di Dataran Tinggi Borneo, Kalimantan Utara. Monumen tersebut tersusun dari tulang belulang, tengkorak, rahang, tanduk dan bagian dari tubuh satwa yang menghuni dataran tinggi Borneo.

Secara tersirat, Monumen Ulong Da’a mencirikan kesinambungan kehidupan manusia dan alam. Melambangkan kekuatan pangan, dan tersedianya sumber daya alam yang melimpah di wilayah hutan masyarakat adat. Bahwa alam dan hutan merupakan bagian yang menyatu dari kehidupan masyarakat adat.

“Ulong Da’a tersusun dari tulang, kerangka dan bagian tubuh satwa yang hidup di tanah kelahiran kami, di dataran tinggi Borneo. Ulong Da’a menceminkan keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam. Ini menandakan bagaimana kita menghargai alam sebagai bagian yang menyatu dengan kehidupan,” katanya.

Menurut Tirusel, tak seperti yang dipersepsikan khalayak umum, esensi tari perang bukanlah soal kekerasan. Melainkan, ketegasan, ketangguhan dan kematapan hati masyarakat adat. Nilai-nilai sejarah yang diadopsi dan diwujudkan melalui seni banyak menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Halaman
123