Berita Malinau Terkini

Harga Sawit di Malinau Naik Rp 2.550 Perkilogram, Petani Minta Pemerintah Waspada Konflik Agraria

Penulis: Mohamad Supri
Editor: Junisah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Harga TBS Sawit di Malinau dibanderol Rp 2.550 per Kilogram di Pabrik Minyak Sawit PT Bukit Borneo Sejahtera, RT 4, Desa Kuala Lapang, Kecamatan Malinau Barat, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Kamis (2/12/2021).

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Pabrik pengolahan sawit di Malinau kembali beroperasi setelah lebih dari 2 tahun mandek akibat Pandemi Covid-19.

Kembali beroperasinya pabrik sawit atau Palm Oil Mill PT BBS di Desa Kuala Lapang, Malinau Barat simultan dengan melonjaknya harga minyak sawit di pasaran.

Sebelumnya, Direktur Utama PT BBS, Hans Leo Schaefer menyampaikan pengoperasian pabrik penghasil CPO tersebut dapat memicu multiplayer effect di Malinau.

Baca juga: Besok Kades dari Hulu Sungai Kayan akan Temui Bupati Bulungan Syarwani Bahas Plasma Kelapa Sawit

Petani Kelapa Sawit asal Kecamatan Mentarang, Albert menjelaskan kenaikan harga minyak sawit global turut dirasakan petani sawit di Malinau.

Saat ini, petani menjual hasil panen miliknya ke Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit di Desa Kuala Lapang seharga Rp 2,5 juta per ton.

Baca juga: Pabrik Sawit Siap Serap Hasil Panen Malinau, Diklaim Mampu Produksi 400 Ton Sehari, Ini Harga TBS

"Sekarang di Pabrik, kalau kita antar langsung dijual Rp 2,5 juta satu ton. Itu jual langsung, tangan pertama. Saya antar pakai pick up pribadi dari Pulau sapi. Harganya sekarang jauh lebih mahal," ujarnya, Kamis (2/12/2021).

Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding setahun lalu. Harga sawit di Malinau dibanderol seharga Rp 1,3 juta per ton.

Harga TBS Sawit di Malinau dibanderol Rp 2.550 per Kilogram di Pabrik Minyak Sawit PT Bukit Borneo Sejahtera, RT 4, Desa Kuala Lapang, Kecamatan Malinau Barat, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Kamis (2/12/2021). (TRIBUNKALTARA.COM/ MOHAMMAD SUPRI)

Karena pada saat itu, hasil panen dijual ke kabupaten tetangga, sejumlah petani mengandalkan jasa pihak ketiga. Hasil kebun dijual seharga Rp 900 ribu per ton.

"Setahun atau dua tahun lalu itu, kalau dijual ke tengkulak harganya Rp 900. Tapi kebanyakan petani antar langsung ke Mansalong, Nunukan seharga Rp 1,3 juta," katanya.

Baca juga: Harga CPO Melambung, Pabrik Pengolahan Sawit di Malinau Beroperasi Lagi Mulai Hari Ini

Kenaikan harga sawit hingga 96 persen tersebut diakui membuat sebagian besar petani kelapa sawit kembali produktif.

Banyak kebun sawit yang sebelumnya terlantar kini dirawat kembali. Setelah dua tahun tidak produktif, sejumlah besar perkebunan kelapa sawit difungsikan kembali.

Namun, Albert memberikan usulan penting dibalik melambungnya harga komoditas perkebunan tersebut. Pemerintah diminta mewaspadai potensi konflik agraria di Malinau.

Baca juga: Konflik Plasma Sawit, Pemkab dan Polres Bulungan Bertemu 18 Perwakilan Warga Desa dari 4 Kecamatan

"Kita bersyukur, naiknya sawit ini memsejahterakan kita para petani. Tapi, kami petani minta supaya pemerintah juga terlibat mengawasi. Karena naiknya harga sawit, kemungkinan gejolak, utamanya sengketa lahan ini juga rawan terjadi. Kita minta pemerintah mencegah hal-hal seperti ini," ucapnya.

(*)

Penulis : Mohammad Supri