Kamis, 9 April 2026

Berita Tarakan Terkini

Beber Proses Pengolahan Batik, Anto Gondrong: Seniman Harus Punya Identitas dan Terus Belajar

Seniman harus punya identitas. Begitu pula berlaku untuk pembatik. Di Tarakan dan Kaltara, Anto Gondrong terkenal dengan batik pakis asianya.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM / ANDI PAUSIAH
Anto Gondrong (berdiri), salah seorang pembatik asal Tarakan, Kaltara saat berada di rumah batik Kelurahan Gunung Lingkas Kota Tarakan bersama para karyawannya. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Seniman harus punya identitas.

Begitu pula berlaku untuk pembatik.

Di Tarakan dan Kaltara, Anto Gondrong terkenal dengan batik pakis asianya.

Dalam kesempatan wawancara pada Kamis kemarin, Anto Gondrong atau pemilik nama lengkap Adi Setyo Purwanto ini menjelaskan bagaimana satu lembar kain menjadi batik diproduksi membutuhkan tretment pewarnaan yang tepat.

Baca juga: Kisah Seniman Tarakan Anto Gondrong, Cukup 14 Hari Sulap Knalpot Brong jadi Patung Robot Transformer

Anto Gondrong, seniman asal Tarakan, pelopor industri batik pertama di Kaltara.
Anto Gondrong, seniman asal Tarakan, pelopor industri batik pertama di Kaltara. (TribunKaltara.com / Istimewa)

Di usaha batik yang berlokasi di Kelurahan Gunung Lingkas, jenis batik diproduksi lanjutnya batik tulis dan sistem pewarnaan.

Ia mengakui, sistem pewarnaan yang ia terapkan sangat berbeda dengan pembatik lain di Tarakan.

Ia menegaskan, identitas diri yang paling utama.

Setiap orang harus tahu tentang identitas dalam berindustri batik dari masing-masing tempat yang memproduksi.

"Jadi dilihat hasilnya, motifnya dan dari pewarnaannya orang sudah tahu, oh ini dari produksi kain batik pakis asia. Mencari jati diri motif batik ini yang memang agak sulit dan yang berbeda kami produksi batik tulis, lukis dan kontemporer dan agak sulit diikuti dari pembatik yang lain," bebernya.

Ia menjelaskan, untuk batik cap, dalam satu hari bisa diproduksi sekitar 20 potong dan untuk batik tulis maksimal lima lembar atau delapan lembar.

"Sementara yang batik tulis, jelas berbeda, tidak ada samanyat ditemukan di batik-batik lain," beber Anto Gondrong.

Karena satu batik lanjutnya tidak akan sama dengan batik yang produksi dari sebelumnya.

Proses produksi sendiri sama namun cara pengerjaan yang berbeda.

Untuk batik tulis, yang dipergunakan adalah canting tulis dan memang menggunakan tangan dan batik cap menggunakan tangan namun pakai alat bantu canting cap.

"Satu hari itu produksi bisa banyak dan dalam pengerjaan bisa sama semua. Untuk tulis, jelas berbeda dari hasil batik lain," bebernya.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved