Berita Bulungan Terkini
Komitmen Pemkab Bulungan dan Berbagai Komunitas Perangi Kekerasan terhadap Perempuan
Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan di Bulungan jadi momentum penguatan advokasi perempuan untuk hentikan kekerasan berbasis gender.
Penulis: Desi Kartika Ayu | Editor: Cornel Dimas Satrio
TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) dan kampanye One Day One Voice (ODOV) 2025 di Kabupaten Bulungan menjadi momentum penting untuk memperkuat suara perempuan dalam upaya menghentikan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.
Sejumlah komunitas perempuan setempat menggelar talk show dan cipta karya seni daur ulang sampah bertema Stop Kekerasan: Upaya Perempuan Melintasi Batas untuk Demokrasi.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Bulungan bersama FAMM Indonesia, Hangout Community, Dedur Indonesia, Inaya Kayan Indonesia, serta jejaring komunitas perempuan lainnya itu sekaligus menjadi ruang aman bagi perempuan untuk bertemu, belajar, dan menyuarakan pengalamannya.
Talk show menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari Ketua TP PKK Bulungan Sri Nur Handayani, politisi muda Andhika Masharafi, hingga Aktivis Perempuan Kaltara Norjannah. Diskusi dipandu Rabiana dari Inaya Kayan Indonesia.
Ketua TP PKK Bulungan, Sri Nur Handayani, menekankan pentingnya peran keluarga dan kebijakan lokal dalam mencegah kekerasan sejak akar rumput. Ia menyebut PKK terus memperkuat program yang memberikan ruang afirmasi bagi perempuan.
"Perempuan hari ini perlu terus diberikan afirmasi positif, dengan peran dan tantangan yang ada. Kami di PKK juga merumuskan sejumlah kegiatan yang mengarah pada pencegahan kekerasan terhadap perempuan," ujarnya.
Sementara itu, politisi muda Bulungan, Andhika Masharafi, menegaskan komitmen mendukung suara perempuan dalam pengambilan kebijakan. Ia menyebut sejumlah regulasi penguatan perlindungan perempuan terus didorong.
"Hari ini berbagai regulasi untuk mencegah kekerasan sudah ada. Kami bersama DP3AP2KB Bulungan juga membahas Ranperda Kabupaten Layak Anak, salah satu tujuannya mencegah pernikahan dini sebagai langkah menekan kekerasan terhadap perempuan," tegasnya.
Aktivis Perempuan Kaltara, Norjannah, mengungkapkan kekerasan terhadap perempuan di Bulungan terus menunjukkan tren peningkatan. Tahun 2024 tercatat 37 kasus, dan tahun ini sudah menembus 47 laporan.
"Kekerasan di Bulungan masih berkisar 30–40 kasus setiap tahun dan trennya meningkat, mulai dari verbal, online, hingga fisik. Bahkan tidak sedikit yang dialami anak. Satu kasus saja sudah banyak, apalagi puluhan," ungkapnya.
Selain diskusi, peserta yang terdiri dari perempuan muda, komunitas, aktivis, pemuda, dan media diajak mengikuti sesi eco crafting melalui kegiatan daur ulang sampah menjadi karya seni bernilai ekonomis.
Produk daur ulang tersebut kemudian ditampilkan dalam rangkaian peringatan 16 HAKTP.
"Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang aman bagi perempuan Bulungan untuk memperkuat diri, memperluas jejaring, serta bergerak melintasi batas sosial, budaya, dan struktural yang menghambat kebebasan mereka," tutur Norjannah.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu
| Harga Plastik Naik, Pedagang UMKM di Tanjung Selor Bulungan Menjerit, Untung Kian Menipis |
|
|---|
| Daftar Pejabat dan OPD yang Wajib Masuk Kantor saat WFA di Bulungan Kaltara |
|
|---|
| Intip Profil Jason, Pemeran Yesus Kristus di Perayaan Jumat Agung Gereja Katedral Tanjung Selor |
|
|---|
| Data Pemilih di Kabupaten Bulungan Naik 2.165 Orang, Kecamatan Tanjung Selor Paling Tinggi |
|
|---|
| Suasana Haru Jumat Agung di Katedral Tanjung Selor, Umat Menangis Lihat Visualisasi Yesus Sengsara |
|
|---|