Sabtu, 11 April 2026

Perang Rusia dan Ukraina

Perundingan Damai Rusia dan Ukraina Buntu, Vladimir Putin Minta Syarat Ini, Perang Berlanjut?

Gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina sepertinya masih sulit tercapai.

Kolase TribunKaltara.com/Twitter @Conflicts @ZelenskyyUa
Kolase TribunKaltara.com Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan serangan Rusia di Ukraina. (Kolase TribunKaltara.com/Twitter @Conflicts @ZelenskyyUa) 

TRIBUNKALTARA.COM - Gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina sepertinya masih sulit tercapai.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, meminta syarat gencatan senjata yang tidak disepakati pihak Ukraina.

Saat ini Senin (28/2/2022), kedua pihak yang berkonflik sedang mengadakan pertemuan runding di Belarusia.

Penasihat presiden Ukraina Mykhailo Podolyak mengatakan tujuan Ukraina untuk pembicaraan itu adalah gencatan senjata segera dan penarikan pasukan Rusia dari Ukraina.

Hadir dalam perundingan Menteri Luar Negeri Belarusia, Vladimir Makei, membuat pernyataan saat Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov dan Vladimir Medinsky, ajudan presiden Rusia dan delegasi lainnya.

Baca juga: Sanksi Negara Asia untuk Rusia yang Serang Ukraina: Singapura Setuju, China Menolak, Indonesia?

Delegasi Rusia yang dipimpin oleh penasihat kepresidenan Rusia, Vladimir Medinsky mengatakan pihaknya juga sudah berada di Belarusia dan siap mengikuti perundingan dengan Ukraina.

"Kami jelas memiliki kepentingan untuk mencapai sejumlah kesepakatan sesegera mungkin," ujar Medinsky.

Rusia disebut telah meminta Ukraina untuk menyerah tanpa syarat.

Hal itu diungkapkan dalam pertemuan antara perwakilan Rusia dengan Ukraina, Senin (28/2/2022).

Jurnalis Al Jazeera, Bernard Smith melaporkan dari Moskow, mengatakan pembicaraan Ukraina dan Rusia "tampaknya sangat, sangat jauh dalam hal apa yang mereka inginkan dari pembicaraan".

“Rusia, kita sudah tahu, telah meminta penyerahan tanpa syarat pasukan Ukraina,” kata Smith, dikutip dari Al Jazeera.

“Vladimir Putin telah meminta pasukan Ukraina untuk menggulingkan pemerintah Volodymyr Zelensky. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan dia tidak mengakui pemerintah Ukraina saat ini sebagai demokratis, meskipun Zelensky terpilih dengan 73 persen suara pada 2019,” terangnya.

Semakin jauhnya titik temu dalam pembicaraan dinilai menjadikan kesepakatan gencatan senjata sulit dicapai.

“Dan tampaknya Rusia terus berjuang, bahkan ketika pembicaraan ini sedang berlangsung … jadi kedua belah pihak sangat berjauhan dan sulit untuk melihat bagaimana mereka bisa mencapai kesepakatan tentang gencatan senjata,” ungkap Smith.

Diketahui pembicaraan tingkat tinggi antara Kyiv dan Moskow berlangsung di perbatasan Ukraina-Belarus.

Ukraina bermaksud meminta Rusia melakukan gencatan senjata.

(*)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved