UMKM Kaltara

Mengenal Tenun Ikat Khas Berau, Produksi Mentari Sanggam, Masih Manfaatkan Proses Tenun Manual

Umumnya kerajinan tenun ikat sudah menggunakan ATBM atau Alat Tenun Bukan Mesin.namun masih ada juga yang memakai alat manual seperti Aminah

Editor: Hajrah
TribunKaltim.co / Renata Andini
Pengerajin Tenun Ikat, Aminah (50) bersama anaknya yang juga kerap membantu dalam mengerjakan dengan alat tradisonal. Saat ini tenun yang Ia kerjakan untuk persiapan pameran kepada Manparekraf yang wacananya akan datang ke Berau 

TRIBUNKALTARA.COM- Umumnya kerajinan tenun ikat sudah menggunakan ATBM atau Alat Tenun Bukan Mesin.

Namun, di Berau, Kalimantan Timur, salah satu yang masih melakoni cara-cara tradisional dalam menenun  adalah Aminah (50).

Aminah masih menenun manual karena belum memiliki alat modern.

Meski begitu, untuk urusan kualitas, tak usah sangsi.

Dalam sehari, ia mampu menghasilkan satu kain tenun dengan estimasi pengerjaan 5 hingga 6 jam menggunakan alat tradisional tenun bernama Gedongan.

Ia menggarap kain tenun berdua dengan sang anak. Awalnya Aminah punya kelompok pengrajin Tenun di Kampung Sukan pada tahun 2007, namun kini Aminah memilih menggarap secara mandiri.

Awalnya, Aminah memproses dari tahapan menyeleksi benang katun satu persatu. Dan membentuk motifnya dengan memisah helaian benang.

Salah satu bagian tersulit adalah memintal corak.

Sebab ciri khas Tenun Ikat Berau yakni motif tidak boleh putus dalam satu kain.

"Di bagian corak ini memang agak sulit, sangat membutuhkan ketelitian yang serba ekstra. Jika benang terlilit, kita harus menyortir satu per satu,"jelas aminah.

Pengerajin Tenun Ikat, Aminah (50) bersama anaknya yang juga kerap membantu dalam mengerjakan dengan alat tradisonal. Saat ini tenun yang Ia kerjakan untuk persiapan pameran kepada Manparekraf yang wacananya akan datang ke Berau.
Pengerajin Tenun Ikat, Aminah (50) bersama anaknya yang juga kerap membantu dalam mengerjakan dengan alat tradisonal. Saat ini tenun yang Ia kerjakan untuk persiapan pameran kepada Manparekraf yang wacananya akan datang ke Berau. (TribunKaltim.com /Renata Andini)

Baca juga: Kesempatan Promosi Produk Pelaku UMKM Kaltara Terbuka Lebar, 2 Kabupaten Ini Segera Buka UMKM Center

Untuk motif Berau sendiri, dijelaskan Aminah minimal harus memiliki warna kuning di dalam corak tenunnya.

Kemudian adanya kombinasi motif khas seperti penyu, daun rutun maupun daun kangkung serta ukiran khas Dayak.

“Kalau tidak teliti, kain bisa terlilit. Kadang kejadian seperti itu, yang bikin was-was jika bukan saya yang mengerjakan sendiri,” ungkapnya.

Aminah sendiri saat ini aktif memproduksi secara mandiri, dan beberapa kali telah bekerja sama dengan Pemerintah kabupaten Berau maupun Dekranasda Berau.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved