Berita Nunukan Terkini

Fakta Baru Kasus Pelecehan Seksual Pelajar di Nunukan Terungkap: Keduanya Jalin Hubungan Pacaran

Fakta baru kasus pelecehan seksual terhadap pelajar 16 tahun di Nunukan terungkap, Kanit PPA: Keduanya jalin hubungan pacaran.

Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
HO/ Irfan sepupu korban
Kedekatan terduga pelaku SR dengan korban R sempat diabadikan melalui foto bareng menggunakan Handphone korban. 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Fakta baru kasus pelecehan seksual terhadap pelajar 16 tahun di Nunukan terungkap, Kanit PPA: Keduanya jalin hubungan pacaran.

Fakta baru kasus pelecehan seksual terhadap pelajar 16 tahun di Nunukan, Kalimantan Utara akhirnya terungkap.

Kanit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA), Polres Nunukan Ipda Marta mengatakan pertemuan korban inisial R (16) dan tersangka SR (43) awalnya melalui aplikasi tik-tok hingga berlanjut obrolan di WhatsApp.

Baca juga: Siswanya jadi Korban Pelecehan Seksual, Wakepsek di Nunukan Sebut Pengawasan Pembina Asrama Ketat

Kata Marta, keduanya telah berkenalan lewat melalui aplikasi tik-tok sejak R masih duduk di bangku SMP, di Keningau, Malaysia.

"Keduanya jalin hubungan pacaran. Tersangka mengaku mereka saling menyukai. Dan kemesraan mereka selama korban dan tersangka di Nunukan jelas diupload di tik-tok," kata Marta kepada TribunKaltara.com, Senin (23/05/2022), sore.

Kendati begitu, sampai saat ini pihak penyidik belum bisa melakukan introgasi terhadap korban R, mengingat kondisinya di RSUD Nunukan saat ini depresi berat.

Lebih lanjut Marta beberkan bahwa tersangka memiliki dua anak dan suami di Jawa Tengah, yang mana pengakuan tersangka mereka sudah berpisah ranjang.

Menurut Marta, tersangka dan korban sepakat untuk bertemu di Nunukan. Kebetulan R mendapatkan beasiswa repatriasi skema yayasan sehingga bisa melanjutkan pendidikan SMA di Nunukan.

"Tersangka sudah dua kali menikah. Suami pertama udah cerai sementara suami kedua pisah ranjang. Mereka janjian ketemu di Nunukan. Karena korban mendapatkan beasiswa sehingga difasilitasi asrama. Sedangkan tersangka ngekos," ucapnya.

Baru tiga bulan di Nunukan tersangka lalu dijemput pihak kepolisian di Jalan Tanjung tempatnya bekerja mengikat rumput laut (mabettang) atas tuduhan melakukan pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur.

"Tersangka mengaku mereka telah melakukan persetubuhan beberapa kali. Dan dia sadar betul itu anak di bawah umur. Soal adakah unsur paksaan, kami belum bisa pastikan dari korban," ujarnya.

Tersangka sempat membantah saat dimintai keterangan soal dirinya yang disebut mantan pekerja seks komersial (PSK).

"Dia mengakunya bukan mantan PSK," tambah Marta.

Baca juga: Arus Penumpang Speedboat Reguler Pagi Nunukan-Tarakan Terpantau Sepi, Berikut Jadwal Keberangkatan

Sering Jemput Korban di Asrama Sekolah

Marta menyampaikan, tersangka sering menjemput korban di asrama sekolah dan meminta izin langsung kepada pembina asrama dengan alasan ibadah.

Bahkan tersangka mengaku sebagai mama angkat korban.

Saking cintanya tersangka kepada korban, ia mengaku sudah pindah agama mengikuti agama korban.

"Berapa kali mereka keluar itu tercatat di buku administrasi asrama. Selama intograsi dia memohon minta ketemu korban. Bahkan kaget mendengar situasi korban yang depresi berat sekarang," tuturnya.

Uang Transfer Orangtua Korban Masuk di Rekening Tersangka

Fakta lain yang terungkap, orangtua korban yang bekerja di Malaysia, selama ini mentransfer uang belanja melalui rekening tersangka. Namun, tersangka memberikan uang belanja itu kepada korban hanya sebagian saja.

"Korban yang memang arahkan kirim uang ke rekening tersangka. Kata korban itu mama angkatnya jadi mamanya di Malaysia percaya aja. Itupun sebagian saja yang diberikan," ungkap Marta.

Korban Bakal Dirujuk ke RS Jiwa Tarakan

Dalam waktu dekat korban akan dirujuk ke rumah sakit (RS) jiwa di Tarakan.

"Dinas Sosial sudah uruskan administrasinya, paling cepat besok sudah di rujuk ke rumah sakit jiwa di Tarakan. Karena dari psikolog yang melihat tadi memang kondisinya depresi berat. Makanya harus dirujuk," imbuhnya.

Mengenai kabar yang beredar soal obat-obatan yang sempat dicekokin tersangka pada minuman korban, Marta akui pihaknya belum bisa memastikan.

Baca juga: Hadir di Paripurna DPRD Kaltara, Gubernur Beri Apresiasi, Nunukan dan KTT Nol Kasus Aktif Covid-19

"Tapi dari keterangan lisan dokter RSUD Nunukan ada indikasi dicekokin obat-obatan. Tapi obat apa itu kami belum bisa pastikan. Dugaan sementara obat perangsang," pungkasnya.

Terhadap perbuatan tersangka SR dipersangkakan Pasal 81 ayat (1) dan ayat (2) UU RI Nomor 17 tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan anak menjadi UU Jo Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

Ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun.

Penulis: Febrianus Felis

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved