Sabtu, 2 Mei 2026

Langkah Penting Pemerintah Waspadai Risiko Resesi, Kendalikan Inflasi Hingga Jaminan Pasokan Pangan

Pengendalian inflasi menjadi salah satu langkah penting pemerintah dalam mewaspadai risiko resesi yang diprediksi terjadi tahun 2023.

Tayang:
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Ilustrasi keberadaan cabai pengaruhi inflasi dan deflasi di Kaltara. Pengendalian inflasi menjadi salah satu langkah penting pemerintah dalam mewaspadai risiko resesi yang diprediksi terjadi tahun 2023. 

TRIBUNKALTARA.COM - Pengendalian inflasi menjadi salah satu langkah penting pemerintah dalam mewaspadai risiko resesi yang diprediksi terjadi tahun 2023.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Pengendalian inflasi itu dilakukan dengan mendorong kolaborasi antara Tim Pengendalian Inflasi di tingkat pusat dan daerah melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Ia menilai, laju inflasi cukup baik dengan sebesar 5,9 persen (year on year/yoy) pada September 2022.

Selain itu, terang Airlangga Hartarto, pemerintah juga mendorong optimalisasi dana alokasi khusus (DAK) fisik untuk tematik ketahanan pangan.

"Untuk membantu sektor transportasi dan tambahan perlindungan sosial, dimanfaatkan 2 persen dana transfer umum (DTU)," ujar Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Rabu (19/10/2022).

Terkait kondisi kenaikan harga energi di tingkat global, pemerintah juga terus melakukan berbagai upaya agar harga di dalam negeri tetap stabil dan terjangkau, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Seperti dengan menggelontorkan berbagai bantuan seperti bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 12,4 triliun dan bantuan subsidi upah sebesar Rp 9,6 triliun untuk 16 juta pekerja.

"Dengan adanya bantuan ini diharapkan dapat memberikan bantalan bagi pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun agar masih berada di sekitar 5,2 persen, dan tahun depan tetap bertahan di atas 5 persen," kata Airlangga.

Sementara terkait mitigasi ancaman krisis pangan, pemerintah merespons dengan memprioritaskan ketahanan pangan melalui kepastian ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga-harga pangan.

Menurutnya, dalam hal ketahanan pangan, Indonesia cukup beruntung karena produksi beras nasional dalam 3 tahun terakhir mencapai 31 juta ton.

Daya tahan yang cukup juga tercermin dengan tidak melakukan impor beras dalam 3 tahun terakhir.

"Kami juga melihat, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia relatif juga tidak mengimpor jagung dan bahkan kita mengalami surplus jagung,” ujarnya.

sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia di 2023 berada pada kisaran 2,3 persen-2,9 persen.

Proyeksi itu turun dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2022 yang di kisaran 2,8 persen-3,2 persen.

Asian Development Bank (ADB) pada September lalu bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2023 menjadi 5 persen dari sebelumnya 5,2 persen.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved