Seluk Beluk Suku Punan Batu
Suku Punan Batu Minta Hutan Dijaga: Kalau Tidak Ada Matilah Kami
Seluk beluk Suku Punan Batu, ingin kelestarian hutan dijaga, sebab ekosistem di dalamnya menyedikan makanan, obat, tempat untuk tinggal, dan pakaian.
Penulis: Maulana Ilhami Fawdi | Editor: Cornel Dimas Satrio
TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Suku Punan Batu tinggal di hutan Sajau sekitar 36 Km dari ibukota Kalimantan Utara, Tanjung Selor.
Hutan adalah sumber makanan dan kehidupan bagi Suku Punan Batu.
Bagi Suku Punan Batu, hutan menyedikan makanan, obat, tempat untuk tinggal, hingga pakaian.
Dari hutan juga, Suku Punan Batu bisa mendapatkan sarang burung walet, madu yang kemudian dijual ke orang kota untuk mendapatkan garam, rokok hingga parang.
Namun hutan sebagai sumber kehidupan Suku Punan Batu semakin terancam karena ekspansi perkebunan kelapa sawit hingga aktivitas perusahaan kayu.
Akim Asut salah satu orang tua di Suku Punan Batu mengungkapkan kondisi hutan hari ini sudah sangat berbeda dibandingkan pada saat dua puluh tahun yang lalu.
Saat ini sudah sangat sulit untuk mencari binatang di hutan, biasanya babi mudah ditemukan hanya dengan berburu selama satu hari. Kini meski berjalan berkeliling hutan hingga tiga hari tiga malam belum tentu seekor babi ditemukan.
"Sekarang paling-paling tidak ada, hanya dapat capeknya saja. Kalau dulu masih ada kijang, pelanduk, sekarang sudah lama tidak ada, kalau babi itu sudah satu tahun saya tidak dapat," kata Akim Asut.
Kondisi hutan hari menurutnya juga semakin terang. Bagi Akim Asut, hutan yang terang dan tak lagi rimbun berdampak pada semakin hilangnya binatang, seperti halnya burung dan juga beberapa buah-buahan.
Akim Asut yang sudah memasuki usia senja tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Suku Punan Batu nanti jika tidak ada lagi hutan yang tersisa. Sebab, hanya dengan hutan yang lestarilah Suku Punan Batu masih dapat mempertahankan kehidupannya.
"Hutan ini kan tempat kita cari makan. Kalau ini rusak matilah bah, mau lari kemana?
Ini saja sudah susah kita makan, apalagi kalau tidak ada," keluhnya.
Pesan agar hutan terus dijaga juga disampaikan Bodon.
Berusia 70 tahun lebih, Bodon mengakui bahwa hutan tempat mereka tinggal tak lagi menyediakan binatang dan makanan semudah dahulu.
Ia mengibaratkan bahwa tak akan ada binatang yang hidup di tanah lapang. Rimbunnya hutan menjadi kunci sumber penghidupan Suku Punan Batu tetap terjaga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Tetua-Suku-Punan-Batu-Akim-Asut-060623.jpg)