Perlawanan dari Tanah Sukawi
Senja yang biasanya menjadi lukisan indah di atas perkampungan sederhana itu kini terasa menyesakkan.
Senja yang biasanya menjadi lukisan indah di atas perkampungan sederhana itu kini terasa menyesakkan.
Pulau kecil di batas negara itu berubah menjadi medan perjuangan. Warga desa, yang biasanya kembali ke rumah mereka untuk beristirahat atau bercengkerama dengan keluarga, kini berbaris di batas desa. Mata mereka, yang biasa dipenuhi kelembutan, kini menyala dengan tekad mempertahankan tanah leluhur.
Di hadapan mereka, seorang pria berbaju putih dengan helm proyek berdiri gagah. Di belakangnya, tiga peleton pasukan bersenjata lengkap membentuk barikade, seakan menegaskan ketidakseimbangan kekuatan. Suara pria itu menggema, dingin dan tegas.
“Kalian diberi waktu tujuh hari untuk pergi. Ganti rugi akan diberikan, dan itu final. Ini proyek penting negara!”
Suara itu disambut dengan keheningan yang menusuk. Lalu Sukawi melangkah maju, berdiri paling depan. Tubuhnya mungkin sudah tak sekuat dulu, namun sikapnya tetap tegap, memancarkan keberanian seorang pemimpin.
“Tidak sebiji pasir pun akan kami serahkan!” jawab Sukawi dengan suara penuh getaran.
“Ini tanah kami, rumah kami, tanah leluhur kami. Kami akan menjaganya, meski nyawa menjadi taruhannya.”
Warga di belakangnya bersorak. Bukan sorak kemenangan, melainkan sorak yang lahir dari rasa sakit, marah, dan keteguhan hati yang membakar dada mereka. Anak-anak yang masih kecil bersembunyi di balik tubuh ibu mereka, menangkap rasa takut dan keberanian sekaligus dalam pemandangan itu.
Namun bagi pria berbaju putih itu, kata-kata Sukawi hanya angin lalu. Ia melambaikan tangan, memberi isyarat pada pasukan bersenjata. “Tangkap siapa pun yang menolak. Mulai dari provokator!”
Keheningan berubah menjadi kekacauan. Pasukan bergerak maju dengan langkah yang berat namun pasti. Tangan-tangan warga saling menggenggam, menciptakan barikade manusia. Namun kekuatan mereka terlalu kecil di hadapan senjata dan pentungan.
Jerit tangis pecah di udara. Sukawi berusaha melindungi warga, tetapi tubuhnya dipukul dengan keras hingga ia jatuh tersungkur. Anak-anak menangis histeris saat ayah dan ibu mereka diseret.
Dalam sekejap, belasan warga, termasuk Sukawi, digiring masuk ke dalam truk polisi. Sisanya hanya bisa berteriak dan menangis, menyaksikan mereka yang dibawa pergi.
Hari itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tak berkesudahan. Sukawi dan 17 warga lainnya ditahan di sel sempit dengan tuduhan melawan aparat. Sementara itu, warga yang tersisa di desa dipaksa menandatangani dokumen penjualan tanah mereka. Dokumen yang tidak mereka pahami, namun ditandatangani dengan paksaan dan ancaman.
Tak butuh waktu lama hingga alat-alat berat mulai berdatangan. Pohon-pohon kelapa yang dulu menaungi desa itu tumbang satu per satu. Rumah-rumah kayu dihancurkan tanpa ampun. Tanah yang dulu subur dan penuh kehidupan kini berubah menjadi lahan kosong, dikelilingi pagar tinggi yang dingin.
Di pemukiman baru yang dijanjikan, kenyataan lebih pahit daripada ketakutan mereka. Warga dipindahkan ke barak-barak sempit dengan fasilitas seadanya. Janji ganti rugi hanya tinggal kata-kata kosong. Anak-anak tidak lagi sekolah. Orang tua sakit karena kurang gizi. Harapan seolah terkubur bersama reruntuhan rumah mereka di pulau itu.
Di dalam penjara, Sukawi hanya bisa menatap jeruji besi dengan hati yang penuh luka. Wahyu, seorang pemuda yang juga ditahan, sering bertanya kepadanya.
Ahmad Ri’fan Muzaqi
| Komentar Spalletti Juventus Gebuk Armada Mourinho di Liga Champions, tak Senasib Inter Milan |
|
|---|
| Gempa Cianjur Jawa Barat Kedalaman 5 Km, Cek Pusat Gempa Terkini 2 Menit yang Lalu |
|
|---|
| Gempa Magnitudo 5.4 Hantam Pulau Puah Sulawesi Tengah, Cek Info dari BMKG |
|
|---|
| Pemkab Nunukan Tegaskan Penyaluran Beasiswa sudah Transparan dan Diawasi Tim Khusus |
|
|---|
| 2 Insiden Kebakaran Lahan Terjadi Kurang dari 24 Jam, Damkar Tana Tidung Sigap Padamkan Api |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Ilustrasi-perlawanan-dari-tanah-Sukawi.jpg)