Kamis, 23 April 2026

Rukyatul Hilal Ramadan di Kaltara

Perdana Digelar di Satrad 225 Tarakan Kaltara, Rukyatul Hilal Dilaksanakan di Ketinggian 87 MDPL

Kegiatan rukyatul hilal jelang Ramadan 1446 Hijriah tahun ini dilaksanakan di ketinggian 87 meter  dari atas permukaan laut (MDPL). 

Penulis: Andi Pausiah | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
PROSES PEMANTAUAN HILAL - Pemantauan hilal perdana dilaksanakan di ketinggian 87 meter di kawasan Satrad 225 Tarakan, Jumat (28/2/2025). TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Kegiatan rukyatul hilal jelang Ramadan 1446 Hijriah tahun ini dilaksanakan di ketinggian 87 meter dari atas permukaan laut (MDPL). 

Lokasi ini menjadi puncak tertinggi wilayah Kota Tarakan. Persisnya pemantauan dilaksanakan  di kawasan  radar pemantau Satrad 225 Tarakan

Hingga selesainya durasi 20 menit masa pemantauan hilal, belum juga terlihat. Dikatakan M Sulam Khilmi, Kepala BMKG Kota Tarakan, bahwa memang kondisi cuaca cerah berawan, dan ufuk selalu berawan.

Sehingga, hilal tertutupi dan tak bisa terlihat jelas menggunakan teleskop dari BMKG maupun milik LDII Provinsi Kaltara.

Baca juga: Jelang Bulan Ramadan 2025, Sat Reskrim Polresta Bulungan Awasi dan Pantau Harga Pangan di Pasar

Dikatakan M.Sulam Khilmi lagi, untuk hasil setelah menunggu sampai pukul 18.42 WITA usia bulan yang ingin dilihat, tetap saja tak terlihat.

"Kita saksikan bersama ufuknya berawan, cakranya berawan. Ini satu kendala ya bagi kami tim rukyat dalam mengamati keadaan hilalnya," jelasnya.

Ia melanjutkan lagi bahwa sampai batas tenggelamnya bulan, tim rukyat tak melihat sama sekali dalam durasi pemantauan hampir 20 menit.

Ia melanjutkan memang di kawasan Satrad 225 ini menjadi lokasi perdana pemantauan setelah sebelumnya dilaksanakan setiap tahun di Taman Berlabuh Kota Tarakan.

 "Kita berupaya mencari tempat observasi yang lebih tinggi. Yang biasa kita laksanakan relatif lebih sejajar dengan laut, kalau di Satrad 225 mencapai 87 meter di atas permukaan laut, jadi lokasi ini ideal melaksanakan observasi hilal," jelasnya.

M.Sulam Khilmi lebih lanjut menyampaikan bahwa memang selalu menjadi penyebab hilal tak terlihat adalah awan menutupi hilal. Idealnya lokasi pemantauan adalah untuk melihat ufuk  atau cakrawala adalah di laut.

"Kalau cakrawala atau ufuknya bukan di laut, potensi pertumbuhan awannya tinggi. Jadi memang kondisinya seperti ini, kita juga sebetulnya tidak menghendaki. Kita maunya jernih, namun kondisi alam," jelasnya.

Lokasi idealnya sendiri lanjutnya adalah pantai barat di suatu pulau. Di Tarakan sendiri memang pulau tapi ufuknya adalah pulau laun. Seharusnya pengamatan di pantai barat sebuah pulau dan ke laut lepas.
 
"Ini ideal untuk melihat ufuk dengan catatan ufuknya juga cerah," jelasnya.

Sebelumnya dalam sambutan M.Sulam Khilmi, gambaran umum ketinggian hilal sore saat  matahari tenggelam mencapai  3 derajat sampai 4 derajat di seluruh wilayah di Indonesia.

Kemudian tertinggi ada di Aceh, mencapai 4 derajat lebih.  Namun demikian,  sudut elongasi tidak begitu besar dan tak sampai 6,5 derajat. Tentu lanjutnya, ini menjadi tantangan  bagi para perukyat. 

Ia menambahkan lamanya bulan  bisa diamati bulan, hampir 20 menit dan itu dimulai matahari tenggelam pukul 18.23 WITA sampai  18.40 WITA. " InsyaAllah itu masa dimana bulan  bisa diamati sepanjang ufuknya jelas," paparnya. 

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved