Minggu, 26 April 2026

Berita Nunukan Terkini

Hari Guru Nasional 2025, Curahan Hati Ignasius Hepa tentang Makna Mengajar di Perbatasan

Hari Guru Nasional jadi momen refleksi bagi guru di perbatasan, Ignasius Hepa. fasilitas sederhana, tantangan besar, tapi semangat mendidik tetap utuh

TribunKaltara.com/Febrianus Felis
REFLEKSI HARI GURU - Memperingati Hari Guru Nasional 2025, Plt. Kepala SDN 001 Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Ignasius Hepa menyampaikan refleksi yang menyentuh tentang makna menjadi guru di tengah keterbatasan fasilitas dan derasnya perkembangan zaman, Selasa (25/11/2025). 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN -  Memperingati Hari Guru Nasional 2025, Plt Kepala SDN 001 Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Ignasius Hepa menyampaikan refleksi yang menyentuh tentang makna menjadi guru di tengah keterbatasan fasilitas dan derasnya perkembangan zaman.

Menurutnya, Hari Guru merupakan momen untuk berhenti sejenak dan menyadari betapa besar peran pendidik dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda.

"Hari Guru bagi saya adalah saat untuk mengenang nilai-nilai yang ditanamkan para guru: kesabaran, ketekunan, kejujuran, dan semangat belajar tanpa henti. Banyak hal yang saya capai hari ini berakar dari perhatian dan bimbingan mereka," ujar Ignasius Hepa kepada TribunKaltara.com, Selasa (25/11/2025), sore.

Ignasius mengakui, menjadi guru saat ini ibarat berdiri di tengah arus sungai yang deras dan penuh tekanan, namun sekaligus membangkitkan semangat untuk terus beradaptasi.

"Ada rasa bangga karena perubahan membuka ruang belajar bersama murid. Tapi juga gugup, karena tidak ada lagi cara lama yang benar-benar aman, karena setiap hari menuntut adaptasi," ucapnya.

Baca juga: Hari Guru Nasional di Nunukan Teguhkan Peran Pendidik dan Perhatian Pemerintah di Wilayah Terpencil

Tantangan terbesar dalam mengajar, menurutnya, adalah hadir secara bermakna bagi semua siswa, terutama di tengah distraksi teknologi serta beragamnya karakter murid.

"Gadget kadang lebih menarik dari papan tulis. Saya belajar untuk tidak hanya mengajar, tapi juga bersaing dengan dunia luar agar anak tetap merasa belajar itu bermakna," kata Ignasius.

Ignasius juga menjelaskan hubungan dengan orang tua peserta didik juga menjadi tantangan tersendiri. Ada yang suportif, ada yang penuh tuntutan, bahkan sebagian sulit dijangkau.

Ia mengatakan, memilih kata yang tepat menjadi kunci menjaga hubungan tetap harmonis.

Meski hanya memiliki fasilitas sederhana di sekolah, Ignasius selalu berusaha menciptakan suasana belajar yang inspiratif.

"Kadang saya hanya punya kardus bekas atau halaman sekolah sebagai media. Tapi justru di situ saya merasa paling dekat dengan murid. Fasilitas bisa terbatas, tapi niat dan kehangatan harus tetap utuh," ungkapnya.

Sebagai pendidik, ia berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah dan pihak sekolah, terutama terkait pelatihan yang relevan, fasilitas dasar yang memadai, dan apresiasi terhadap kerja emosional para guru.

"Yang paling kami butuhkan adalah ruang untuk berkembang. Percayalah, kami tahu apa yang terbaik untuk murid kami," tegasnya

Ignasius berharap sistem pendidikan ke depan lebih menghargai proses, bukan sekadar angka dan laporan administrasi.

"Saya ingin pulang dari sekolah dengan perasaan: ‘Hari ini saya benar-benar mengajar,’ bukan hanya memenuhi kewajiban," tuturnya.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved