Selasa, 28 April 2026

Berita Nunukan Terkini

Di Balik Laut Melimpah Nunukan Kaltara, Nelayan Berjuang dengan Armada Terbatas

Laut di Kabupaten Nunukan terkenal kaya, namun bagi sebagian nelayan, kekayaan itu terasa jauh.

Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM/ ISTIMEWA
ILUSTASI - Aktivitas nelayan. 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Laut di Kabupaten Nunukan terkenal kaya, namun bagi sebagian nelayan, kekayaan itu terasa jauh.

Keterbatasan Armada dan teknologi membuat mereka harus bekerja keras setiap hari, menantang cuaca dan gelombang, hanya untuk mendapatkan hasil tangkapan yang pas-pasan.

Haji Ardi, seorang nelayan sekaligus pedagang ikan lokal, menceritakan rutinitasnya.

Setiap subuh, ia dan beberapa rekannya berangkat ke laut dengan kapal berukuran kecil, mesin tua, dan alat tangkap tradisional.

Baca juga: Bantuan Alat Tangkap dan Mesin Tempel dari Kementan Disalurkan  ke Kelompok Nelayan di Tarakan

TANTANGAN NELAYAN NUNUKAN - Haji Ardi, seorang nelayan sekaligus pedagang ikan lokal, bercerita tentang bagaimana keterbatasan armada dan teknologi membuatnya harus bekerja keras setiap hari, menantang cuaca dan gelombang, hanya untuk mendapatkan hasil tangkapan yang pas-pasan.
TANTANGAN NELAYAN NUNUKAN - Haji Ardi, seorang nelayan sekaligus pedagang ikan lokal, bercerita tentang bagaimana keterbatasan armada dan teknologi membuatnya harus bekerja keras setiap hari, menantang cuaca dan gelombang, hanya untuk mendapatkan hasil tangkapan yang pas-pasan. (TribunKaltara.com/Febrianus Felis)

Mereka hanya bisa menjangkau wilayah dekat pantai, sementara lokasi tangkap yang lebih potensial masih jauh di luar jangkauan.

“Kalau kapal kami lebih besar dan ada teknologi, pasti bisa lebih jauh, lebih banyak ikan. Tapi semua itu butuh biaya, dan modal kami terbatas,” ujarnya kepada TribunKaltara.com, Minggu (28/12/2025).

Ardi bercerita bahwa beberapa temannya di Tawau, Malaysia, mampu menangkap ikan jauh lebih banyak karena Armadanya modern dan dilengkapi sonar serta GPS.

Keterbatasan ini membuat nelayan Nunukan bergantung pada pengalaman dan insting.

Titik penangkapan ditentukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun, cuaca, dan keberuntungan. Namun, hasilnya tidak selalu stabil, sehingga pendapatan nelayan sering naik-turun.

Selain itu, Ardi mengungkapkan risiko keselamatan menjadi ancaman sehari-hari. Kapal kecil dengan mesin tua rentan mogok di tengah laut, sementara gelombang tinggi bisa menimbulkan bahaya serius.

Meski begitu, semangat nelayan tetap tinggi karena laut adalah sumber penghidupan keluarga mereka.

Pemerintah Kabupaten Nunukan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah beberapa kali hadir dengan program bantuan, tetapi sebagian nelayan mengeluhkan bahwa bantuan itu hanya sebatas wacana atau belum menyentuh kebutuhan teknis mereka, seperti kapal yang lebih kuat, peralatan modern, atau pelatihan teknologi penangkapan.

“Harapan kami sederhana, ada dukungan nyata. Modal, kapal, dan teknologi bisa membuat laut ini benar-benar berkah, bukan sekadar cerita orang luar yang melihat laut kita kaya,” tutur Ardi.

Tak hanya soal ekonomi, modernisasi perikanan juga diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup nelayan.

Dengan Armada dan alat tangkap yang memadai, mereka bisa bekerja lebih aman, hasil tangkapan lebih banyak, dan anak-anak mereka memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tanpa harus meninggalkan keluarga demi mencari nafkah.

Baca juga: Pemkab Malinau Gelontorkan Ribuan Bantuan utnuk Kelompok Usaha Nelayan Tangkap

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved