Berita Tarakan Terkini

Banjir, Longsor, dan Angin Kencang, jadi Catatan Hidrometeorologi Tarakan Sepanjang 2025

BMKG mencatat aliran massa udara basah lintas ekuator, hingga gelombang MJO aktif, semua berkontribusi pada bencana hidrometeorologi di Tarakan 2025

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Cornel Dimas Satrio
TribunKaltara.com/Andi Pausiah
BENCANA HIDROMETEOROLOGI - Dokumentasi banjir di kawasan Perumnas Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, pada Maret 2025. BMKG mencatat aliran massa udara basah lintas ekuator, gelombang MJO aktif, hingga suhu laut Sulawesi yang lebih hangat, semua berkontribusi pada bencana hidrometeorologi sepanjang tahun 2025. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan merilis kaleidoskop cuaca dan iklim sepanjang tahun 2025. Catatan tersebut menegaskan Tarakan, Kalimantan Utara menghadapi berbagai bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, longsor, hingga angin kencang.

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menyebut periode pengamatan berlangsung dari 1 Januari hingga 29 Desember 2025.

Sepanjang tahun, tercatat 247 hari hujan dengan curah hujan tahunan mencapai 3.971,2 milimeter. Suhu rata-rata berada di 27,8 derajat Celsius, sementara kelembapan udara mencapai 83,4 persen.

Puncak hujan ekstrem terjadi pada 29 Januari 2025, dengan intensitas harian 145,2 milimeter.

04012026 Kepala BMKG Tarakan Sulam Khilmi 01
BENCANA HIDROMETEOROLOGI - Kepala BMKG Tarakan, Sulam Khilmi mengungkapkan aliran massa udara basah lintas ekuator, gelombang MJO aktif, hingga suhu laut Sulawesi yang lebih hangat, semua berkontribusi pada bencana hidrometeorologi sepanjang tahun 2025, Minggu (4/1/2026).

Baca juga: Siaga Hidrometeorologi Basah di Kaltara, Warga Pesisir dan Lereng Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Hujan lebat ini memicu banjir besar dan longsor yang menelan korban jiwa. Peristiwa serupa juga terjadi pada 23 April dan 9 Oktober 2025, ketika curah hujan tinggi disertai angin kencang menyebabkan pohon tumbang dan menewaskan dua nelayan.

"Beberapa pohon tumbang dilaporkan menghalangi jalan. Dan saat itu ada korban jiwa dua nelayan melaut malam-malam," ungkap  Sulam Khilmi.

Selain hujan, Tarakan juga mencatat 134 kali guntur sepanjang tahun. Suhu maksimum mencapai 34,4 derajat Celsius pada 8 November, sedangkan kecepatan angin tertinggi tercatat 28 knot pada 8 Oktober.

BMKG menjelaskan, fenomena atmosfer global seperti gelombang MJO aktif, suhu laut Sulawesi yang lebih hangat, serta zona konvergensi angin memperkuat pertumbuhan awan konvektif dan meningkatkan risiko hujan ekstrem.

"Faktor-faktor ini membuat Tarakan lebih rentan terhadap banjir, longsor, dan angin kencang sepanjang 2025," ujarnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved