Minggu, 19 April 2026

Idul Fitri

Nyepi Berbarengan Idul Fitri, Ketua Muhammadiyah Kaltara Tekankan Toleransi Antarumat Beragama

Momentum Hari Raya Nyepi berbarengan lebaran Idul Fitri 2026, Ketua PW Muhammadiyah Kaltara tekankan toleransi antarumat beragama.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Amiruddin
TribunKaltara.com/Andi Pausiah
TOLERANSI BERAGAMA - Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Utara (Kaltara), H Syamsi Sarman, saat diwawancarai media, usai jadi khatib Salat Idul Fitri 2026 di SMAN 1 Tarakan, pada Jumat (20/3/2026). Momentum Hari Raya Nyepi berbarengan lebaran Idul Fitri 2026, Ketua PW Muhammadiyah Kaltara tekankan toleransi antarumat beragama. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH 

Ringkasan Berita:
  • Momentum Nyepi berdekatan dengan Ramadan dan Idul Fitri di Tarakan menjadi cerminan keberagaman, dengan umat Hindu sekitar 0,7 persen dari total penduduk dan terpusat di kawasan Pura Pasir Putih.
  • Muhammadiyah Kaltara menegaskan komitmen menjaga toleransi: takbiran dilakukan sederhana di masjid tanpa mengganggu umat lain.
  • Komitmen lintas agama ini juga didukung oleh FKUB, agar seluruh umat dapat menjalankan ibadah dengan nyaman selama Nyepi, Ramadan, dan Idul Fitri.

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Momentum Hari Raya Nyepi yang berdekatan dengan ibadah Ramadan dan Idul Fitri menjadi cerminan nyata keberagaman di Kota Tarakan

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Utara, H Syamsi Sarman turut menyampaikan di momen open house, menegaskan pentingnya menjaga toleransi di tengah perbedaan ibadah yang berlangsung bersamaan.

Menurutnya, Muhammadiyah sejak awal telah berkomitmen menjaga keharmonisan antarumat beragama, termasuk dalam momentum Nyepi yang beriringan dengan aktivitas umat Islam.

“Ya, kami tentu menjaga toleransinya.

Walaupun kami sudah tidak puasa, sudah lebaran, tentu kita tidak ramai-ramai.

Apalagi Muhammadiyah tidak pernah mengamalkan takbir keliling,” ujar Syamsi Sarman.

 

Baca juga: Jemaah Muhammadiyah Tarakan Salat Idul Fitri 2026, Khutbah Menyentuh Ajak Peduli Dhuafa

Ia juga menyampaikan, kemarin saat momen takbiran yang dilakukan Muhammadiyah tetap dilaksanakan secara sederhana di dalam masjid, tanpa mengganggu umat lain yang sedang menjalankan ibadah.

“Takbiran cukup di masjid masing-masing, menggunakan pengeras suara di dalam saja.

Jadi hanya untuk jemaah, tidak keluar,” jelasnya.

Momentum ini, lanjutnya, bukan hal baru.

Ia mencontohkan di Bali, di mana umat Islam dan Hindu telah terbiasa hidup berdampingan dan saling menghormati saat Nyepi dan Ramadan berlangsung bersamaan.

“Di Bali saja Muhammadiyah mendapat pujian karena bisa menjaga toleransi.

Nyepi dan tarawih bisa berjalan bersama tanpa masalah,” katanya.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved