Rabu, 22 April 2026

Berita Tarakan Terkini

Pengakuan Soleh, Penjual Sapi di Tarakan yang Terhimpit Modal hingga Kurangi Pasokan

Begini pengakuan Soleh, seorang penjual sapi di Tarakan yang mengaku terhimpit modal hingga terpaksa kurangi pasokan jelang Idul Adha 2026.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Amiruddin
TribunKaltara.com/Andi Pausiah
PANTAU SAPI - Pak Soleh saat memantau sapi di lokasi penjualan wilayah Pasir Putih, Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, Sabtu (18/4/2026). Begini pengakuan Soleh, seorang penjual sapi di Tarakan yang mengaku terhimpit modal hingga terpaksa kurangi pasokan jelang Idul Adha 2026. TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH 
Ringkasan Berita:
  • Penjualan sapi di Tarakan tahun ini lebih sepi, dipicu kenaikan harga dan daya beli masyarakat yang menurun.
  • Pedagang seperti Soleh kesulitan modal karena tidak mendapat KUR, sehingga pasokan sapi berkurang dan penjualan melambat.
  • Harga sapi naik hingga sekitar Rp45 juta untuk ukuran besar, namun transaksi tetap mengandalkan kepercayaan tanpa DP, meski berisiko pembatalan pembeli.

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Lapak sapi di kawasan Pasir Putih, Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, tak seramai tahun-tahun sebelumnya. 

Di bawah terik matahari, puluhan sapi tampak berdiri berjejer menikmati rumput yang disiapkan Pak Soleh.

Soleh merupakan pemilik usaha penjualan sapi, yang berlokasi di wilayah Pasir Putih, Jalan Bhayangkara, Kota Tarakan.

Di sanalah Pak Soleh, penjual sapi yang sudah lebih dari satu dekade menggantungkan hidup, tetap bertahan meski tahun ini terasa jauh lebih berat.

“Sekarang sapi mahal sekali,” ucap Pak Soleh pelan, membuka percakapan, Minggu (19/4/2026).

Kenaikan harga sapi tahun ini diakui cukup signifikan dibanding tahun lalu. 

Meski tidak merinci angka pasti, ia menyebut selisihnya terasa di lapangan. 

Baca juga: Geliat Penjualan Sapi di Pasir Putih Tarakan Jelang Idul Adha, Harga Rp 20 Juta hingga Rp 70 Juta

Jika sebelumnya harga masih relatif terjangkau bagi pembeli, kini banyak yang mulai menahan diri.

“Baru sekarang mahal, mahal banget,” katanya lagi.

Namun bukan hanya soal harga yang membuat usaha Pak Soleh tersendat. 

Ia mengaku tahun ini tak bisa mendapatkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan, yang selama ini menjadi salah satu penopang modal usahanya. 

Tanpa tambahan dana, kemampuan untuk mendatangkan sapi dari luar daerah pun ikut terbatas. 

"Kalau biasanya saya bisa pesan ratusan ekor itu miliaran. 

Sekarang tidak bisa, tidak dikasih perbankan, ya namanya kita orang kecil," ungkapnya.

Akibatnya, pasokan sapi yang masuk ke Tarakan ikut berkurang.

“Belum ada yang pesan juga. 

Biasanya ada saja yang datang duluan,” ujarnya.

Di lapaknya kini, sekitar 50 hingga 55 ekor sapi masih bertahan. 

Jumlah itu sebenarnya tak jauh berbeda dari tahun lalu, namun perputaran penjualan melambat. 

Ia hanya bisa menunggu pembeli datang, sambil tetap merawat ternaknya semampu yang ia bisa.

Baginya, merawat sapi tak ubahnya menjaga kesehatan manusia, perlu ketelatenan dan kesabaran.

“Sapi itu rawan. 

Kadang sehat, kadang sakit. 

Sama seperti kita manusia. 

Kita juga nggak tahu kapan,” ujarnya.

Baca juga: Sampel Darah Ratusan Ekor Sapi di Tarakan Diperiksa Jelang Idul Adha, Bagaimana Hasilnya?

Bertahun-tahun menjalani profesi ini, meninggalkan begitu saja bukan perkara mudah. 

Ia memilih tetap bertahan, meski dengan segala keterbatasan.

Di tengah kondisi yang serba tidak pasti, Pak Soleh mencoba menjalani semuanya dengan sikap sederhana.

“Jalani saja. 

Kita ini cuma jalani saja. 

Nggak usah mengeluh betul. 

Sabar aja. 

Karena manusia cuma bisa jalani saja," akunya.

Dari sisi harga sapi, kata Pak Soleh, paling mahal dihargai Rp 45 juta ukuran besar. 

Padahal tahun lalu di harga sekitar Rp 40 jutaan. 

Kenaikannya sangat terasa lantaran pasokan dari Gorontalo juga naik. 

"Kemarin saya cuma dapat 15 sapi itu sudah sama stok di sini karena modal terbatas," ujarnya.

Sejauh ini ada saja pembeli datang bertanya-tanya. 

Ada yang memesan juga namun tidak menggunakan DP. 

"Kami modal kepercayaan saja," akunya.

Karena sistem itu, kadang ada saja calon pembeli membatalkan sepihak. 

Ia tak bisa mengubah sistem penjualan dan tetap menerapkan keyakinan bahwa penjualan tak perlu DP banyak. 

"Ternyata ada saja sudah beli di lain dan lupa ngabari kami. 

Ya begitulah. 

Tapi ada juga pesan dan betul-betul bayar sampai selesai," pungkasnya. 

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

 

Baca Berita Terkini Tribun Kaltara di Google News

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved