Terpaksa Jadi Kurir Sabu Karena Anak Menderita Sakit, Sedangkan Perantara Diupah Rp 10 Juta

Terpaksa jadi kurir sabu karena anak menderita sakit, sedangkan perantara diupah Rp 10 juta.

TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD FAIROUSSANIY
Ketiga pelaku tertunduk saat digelandang petugas kepolisian usai press rilis di Di Mako Polresta Samarinda, Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Selasa (13/10/2020). TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD FAIROUSSANIY 

TRIBUNKALTARA.COM, SAMARINDA - Terpaksa jadi kurir sabu karena anak menderita sakit, sedangkan perantara diupah Rp 10 juta.

Pengungkapan kasus narkotika oleh Satreskoba Polresta Samarinda yang melibatkan tiga pelaku yaitu PT, AR dan FH, menyimpan cerita lain. 

Di Mako Polresta Samarinda, Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, pelaku yang berperan sebagai kurir FH (32) yang diamankan petugas karena keterlibatannya hanya bisa tertunduk lemas ditemui awak media. 

Baca juga: Tak Pakai Masker, 17 Warga Diminta Punguti Sampah di Jalan

Baca juga: Calon Gubernur Petahana Dilapor, Begini Reaksi Ketua Bawaslu Kaltara Suryani

Baca juga: Mantan Pimpinan Bawaslu Kaltara Mumaddadah Laporkan Petahana, Ini Masalahnya

FH dihadapan awak media, dengan terpaksa menerima tawaran menjadi kurir barang haram tersebut untuk biaya berobat anaknya yang sedang menderita sakit. 

"Kenal dengan pelaku PT (warga binaan Lapas Narkotika Klas IIA Samarinda, sebagai otak pelaku) berawal sering membeli (sabu) ke dia. Iya saya juga pemakai (sabu)," sebut FH, Selasa (13/10/2020)

Beberapa kali membeli pada PT, FH mendapat tawaran menjadi kurir dengan upah Rp150-Rp300 ribu sekali antar. 

"Saya terpaksa melakukan (menjadi kurir), karena memang butuh uang untuk pengobatan anak, sudah sakit berbulan-bulan. Tapi saya tidak tau jumlahnya sebesar ini (berat sabu 1,022 gram brutto)," ungkap FH.

FH, juga bercerita bahwa sebelumnya ia bekerja sebagai buruh bangunan, lantaran pandemi Covid-19 yang kian merebak masif, akhirnya pekerjaan satu-satunya yang menjadi pegangan hidup tak lagi dilakukannya.

"Kalau anak hanya satu dan masih kecil," sambungnya.

Sedangkan pelaku AR yang menjadi perantara diiming-imingi oleh otak pelaku PT sebesar Rp10 Juta untuk satu kali pengerjaan barang haram kepada kurir. 

Karena upah yang besar, langsung disetujui oleh pelaku AR yang juga bekerja sebagai buruh bangunan, perintah PT untuk menjemput kristal mematikan yang telah disiapkan di Jalan Ir Sutami, Kecamatan Sungai Kunjang. 

Belum sempat mendapat upah yang dijanjikan, AR justru lebih dahulu diamankan petugas kepolisian dari Satreskoba Polresta Samarinda.

Baca juga: Pengerjaan Hampir Selesai, Dua Gereja Progam TMMD Ke 109 Kodim 0907 Tarakan Capai 96 Persen

Baca juga: Akhirnya Prabowo Buka Suara, Bongkar Sikap Gerindra Tak 100 Persen Dukung UU Cipta Kerja

Baca juga: Jadwal Debat Kandidat Gubernur Pilgub Kaltara, KPU Sebut 3 Kali Digelar, Ini Daftar Temanya

"Lewat sambungan telpon saja sama dia (PT), meminta tolong antarkan barang. Tahu saya kalau itu sabu. Dia (PT) dapat nomor saya dari temen yang pernah nukang dirumahnya dulu," ucap AR.

Meski menyesali perbuatannya yang baru pertama dilakukan, AR tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum.

Akibat perbuatannya, kini kedua buruh bangunan ini telah ditetapkan sebagai tersangka dan disanksi Pasal 114 ayat (2) subs Pasal 112 ayat (2) Juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2009, tentang narkotika dengan ancaman minimal 10 tahun penjara dan maksimal seumur hidup.

( TribunKaltara.com / Mohammad Fairoussaniy )

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved