Berita Tarakan Terkini

Anggota RISE Programme Sebut Pembelajaran Jarak Jauh Jadi Tantangan Besar Dimasa Pandemi Covid-19

Anggota RISE Programme sebut pembelajaran jarak jauh jadi tantangan besar dimasa pandemi Covid-19.

Penulis: Risnawati | Editor: M Purnomo Susanto
IST
Anggota RISE Programme, Sekolah Pemerintah Blavatnik, Universitas Oxford, Inggris, Michelle Kaffenberger dalam kegiatan webminar Mitigasi Learning Loss untuk Mencegah Kerugian Ekonomi dan Sosial di Masa Depan Akibat PJJ Berkepanjangan yang diselenggarakan oleh FKIP Universitas Borneo Tarakan berkerjasama dengan Program INOVASI secara daring. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Anggota RISE Programme sebut pembelajaran jarak jauh jadi tantangan besar dimasa pandemi Covid-19.

Anggota Research on Improving Systems of Education atau RISE Programme, Michelle Kaffenberger mengatakan remote learning atau pembelajaran jarak jauh merupakan tantangan dimasa pandemi Covid-19 ini.

Hal tersebut menumbuhkan kesadaran global bahwa para siswa hanya belajar sedikit dari pembalajaran jarak jauh.

Sempat Gagal Divaksin karena Usia di Atas 60 Tahun, Walikota Bontang Akhirnya Jalani Vaksin Covid-19

Pandemi Covid-19, Keterbatasan Infrastruktur di Kaltara Menjadi Tantangan Besar Layanan Pendidikan

Covid-19 Hajar Sektor Pendidikan, Program Inovasi Dukung Mitra di Kaltara Gunakan Kurikulum Darurat

Pembelajaran jarak jauh dirasa tidak efektif untuk siswa, terutama yang sudah ketinggalan pelajaran, dari keluarga yang memiliki pendapatan rendah, dan tinggal di daerah pedesaan.

Dia sampaikan, kebanyakan pembelajaran jarak jauh menggunakan internet, namun tentu hal itu tidak akan bekerja pada anak yang tinggal di daerah yang memiliki keterbatasan koneksi internet.

"Melalui Radio, TV, SMS, atau mencoba untuk pembalajaran secara tatap muka sebisa mungkin akan lebih efektif," ujarnya, Kamis (11/2/21)

"Meskipun upaya terbaik saat ini adalah pembelajaran jarak jauh. Tapi kita harus berharap para siswa siap ketika sekolah dibuka," tambahnya.

Sementara itu dia menyampaikan terkait kerugian yang didapatkan selama penutupan sekolah.

Pembelajaran selama penutupan sekolah menjadi monoton dan tidak menarik bagi siswa. Bahkan siswa hanya akan belajar sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

"Selama pembalajaran jarak jauh, tidak sedikit siswa yang lupa dengan yang meraka pelajari. Hal itu tentu menjadi buruk daripada saat sekolah masih dibuka," tambahnya.

Asal Covid-19 dari Wuhan atau Kebocoran Laboratorium? Ini Temuan Tim WHO Selama Investigasi di China

LENGKAP! Dapatkan Token Listrik Gratis Stimulus Covid-19, Melalui Aplikasi Mobile PLN/www.pln.co.id

UPDATE Tambah 2, Kasus Covid-19 Nunukan Jadi 993, Jubir Satgas Sebut Semua dari Transmisi Lokal

Menurutnya, sistem pendidikan harus mulai direncanakan dari sekarang untuk mengurangi kerugian pada siswa ketika siswa kembali masuk sekolah.

Yaitu dengan memprioritaskan kemampuan dasar, menilai tingkat belajar siswa ketika mereka kembali ke sekolah, dan menyesuaikan instruksi sesuai tingkat belajar siswa.

"Sistem dapat dapat mengimplementasikan mitigasi dengan cara membantu mereka kembali kuat dan belajar yang giat daripada saat pembalajaran jarak jauh. Pemulihan adalah investasi," jelasnya.

Penulis: Risnawati

Jangan Lupa Like Fanpage Facebook TribunKaltara.com

Follow Twitter TribunKaltara.com

Follow Instagram tribun_kaltara

Subscribes YouTube Tribun Kaltara Official

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved