Breaking News:

Perbatasan RI Malaysia

Pengajar Muda Nunukan Sebut Toleransi Beragama di Pelosok Desa Perbatasan RI-Malaysia Sangat Tinggi

Pengajar muda dari Yayasan Indonesia Mengajar bertugas di Nunukan sebut toleransi beragama di pelosok desa perbatasan RI-Malaysia sangat tinggi.

TRIBUNKALTARA.COM/FELIS
Pengajar muda di perbatasan RI-Malaysia saat berdiskusi bersama Bupati Nunukan, Asmin Laura. (TRIBUNKALTARA.COM/ Febrianus felis) 

Bahkan, wanita berjilbab itu akui selama tinggal bersama orang tua angkatnya, hidangan makanan di rumah itu tak pernah menyinggung kepercayaan yang ia yakini.

"Mereka tau ada hal yang secara agama melarang untuk dimakan. Jadi selama setahun di rumah mereka nggak masak makanan yang saya nggak makan. Luar biasa toleransinya orang di sana," ujarnya.

Yuga dan enam rekan lainnya tersebar di lima kecamatan yaitu Sebatik Tengah, Tulin Onsoi, Sembakung Atulai, Lumbis Ogong dan Lumbis.

Di tiap kecamatan, enam tenaga pengajar itu mengajar untuk 6 sekolah yang berbeda.

Keenam tenaga pengajar itu berasal dari latar belakang pendidikan, perguruan tinggi dan asal yang berbeda-beda. Mereka tergabung dalam Yayasan Indoensia Mengajar.

Mulai Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jepara, Sukabumi, dan Yogyakarta.

Diketahui, Rabu (17/02/2021) lalu, keenam pengajar muda itu sudah berpamitan secara langsung kepada Bupati Nunukan, Asmin Laura.

Mereka kembali ke tempat asalnya masing-masing, lantaran kontrak kerja antara Yayasan Indonesia Mengajar dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan hanya berlansung 5 tahun.

Kendati begitu, Yuga berharap kepada Pemerintah Daerah Nunukan untuk melakukan penguatan terhadap tenaga pendidik di perbatasan RI-Malaysia itu.

Menurut Yuga, ketimpangan dalam dunia pendidikan masih terjadi di pelosok perbatasan. Sehingga butuh atensi serius dari Pemerintah Daerah.

Halaman
123
Penulis: Febrianus Felis
Editor: M Purnomo Susanto
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved