Minggu, 3 Mei 2026

Berita Nunukan Terkini

Akibat Lockdown, 7 Pelajar Anak Pekerja Migran Indonesia dari Malaysia Batal Ikuti ANBK di Nunukan

Akibat lockdown, 7 pelajar anak Pekerja Migran Indonesia atau PMI dari Malaysia batal ikuti ANBK di Nunukan.

Tayang:
Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
HO/ Maulini
Proses ujian pelajar di Yayasan PKBM Al Firdaus, belum lama ini. (HO/ Maulini). 

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Akibat lockdown, 7 pelajar anak Pekerja Migran Indonesia atau PMI dari Malaysia batal ikuti ANBK di Nunukan.

Sebanyak tujuh anak pelajar yang merupakan anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Tawau, Malaysia gagal ikut Asesmen Nasional Berbasis Komputer ( ANBK) yang digelar pada 4-7 Oktober 2021.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nunukan, Junaidi mengatakan ke 7 pelajar tersebut mengambil paket B, di bawah naungan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Fidaus, Kecamatan Sebatik.

Baca juga: 8 Kecamatan di Nunukan Zero Covid-19, Satgas Beber Wilayah Tempati Posisi Pertama Kasus Aktif Corona

Ketujuh pelajar tersebut berasal dari Kalabakan, Malaysia dan tidak bisa mengikuti ANBK pada Rabu (06/10), lantaran hingga saat ini, negeri jiran itu masih berstatus lockdown.

"Rencananya ANBK-nya mau digabungkan dan diikutkan di SMPN 1 Sebatik hari Rabu lalu, tapi ternyata mereka tak bisa keluar dari Malaysia karena status Malaysia masih lockdown," kata Junaidi kepada TribunKaltara.com, Jumat (08/10/2021), pukul 19.00 Wita.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua Yayasan PKBM Al Firdaus, Sebatik, Maulini Zainal Abidin.

Ia mengaku, ketujuh pelajar di Kalabakan, Malaysia itu, terdaftar sebagai pelajar di sekolah yang berada di bawah naungan Konsulat RI di Tawau. Namun, nama mereka terdaftar dalam dapodik Indonesia.

"Jadi, kita juga nggak mungkin mengeluarkan mereka dengan sistem terbarukan. Inilah menjadi kendala. Kita juga mau masuk ke sana tidak mungkin karena masih lockdown. Saya juga tidak berani kalau tidak ada izin resmi," ucap Maulini Zainal Abidin melalui telepon seluler.

Baca juga: Polres Nunukan Serahkan Kendaraan Dugaan Tindak Pidana Perjudian ke Pemiliknya, Ada Plat Merah

Bahkan, kata Maulini orangtua pelajar yang tersebar di kem-kem Kalabakan, Malaysia juga tidak berani mengeluarkan anaknya untuk pergi mengikuti UNBK dengan situasi yang belum bisa melintas ke Indonesia.

"Kita juga tidak bisa memberikan alternatif mereka langsung berangkat melalui konsulat juga. Karena mereka ini anak-anak yang masih tertinggal yang belum ada kejelasan akan kemana. Mereka hanya berpikir sudahlah di sekolah yang ada dulu," ujarnya.

Menurut Maulini, upaya yang bisa dilakukan pihaknya, lebih kepada kemanusiaan terhadap anak.

Hal itu karena pihaknya tidak bisa melepas tanggung jawab, lantaran data anak masuk dalam dapokdik Al Firdaus.

"Jadi, anak-anak ini sudah terdaftar sejak dulu saat masih usia SD. Jadi, mereka ini lulus SD tahun 2018 lalu, sekarang masuk SMP kelas 8 dan mereka masih mengikuti di Al Firdaus," tuturnya.

Dia menjelaskan sejak tahun 2018 Yayasan PKBM Al Firdaus diambil alih oleh Konsulat Tawau. Hanya saja, kata dia, pimpinan yayasan saat itu tidak menerima dan akhirnya pergi.

"Tapi, saya tetap menjalani. Namanya pendidikan semua anak bangsa di mana pun berada harus dilakukan. Jadi, saya meneruskan tanpa pak Firdausnya. Itu ada 10 sekolah di Lahadatu, Sabah, Malaysia, sudah diambil alih oleh Konsulat Tawau. Dan serahterimanya saya yang melakukannya," ungkapnya.

Baca juga: Jadwal Speedboat Reguler Siang Rute Nunukan-Tarakan Jumat 8 Oktober 2021, Berangkat Pukul 14.00 Wita

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved