Breaking News:

Berita Tana Tidung Terkini

Tolak Bala, Tradisi Turun Temurun Suku Tidung, Warga Bawa Kue Jaman Dulu. Ada Serabi hingga Cucur

Tolak balak tradisi yang dilakukan masyarakat Suku Tidung dengan membawa kue-kue jaman dulu. Seperti serabi, cucur. Ada pula acara bemandian.

Penulis: Risnawati | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ HO-Humas KTT
Tradisi tolak bala, warisan budaya Suku Tidung yang dilaksanakan setiap Bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender hijriah. 

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Tradisi tolak bala merupakan tradisi dari generasi ke generasi Suku Tidung, setiap Bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender hijriah

Menurut tradisi Suku Tidung, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Tidung, Jafar Sidik mengatakan, acara tolak bala ini dilaksanakan pada Rabu awal dan Rabu akhir Bulan Safar.

Orang dulu percaya, Bulan Safar merupakan bulan yang panas atau bulan penuh petaka. Sehingga dilakukan doa tolak bala setiap Bulan Safar, agar umat manusia terhindar dari mara bahaya.

Baca juga: Ritual Tolak Bala Khas Suku Tidung di Baloi Adat Desa Salimbatu Bulungan, Panitia Jelaskan Makna

Di masa pandemi Covid-19 ini, acara tolak bala di Kabupaten Tana Tidung, dilaksanakan secara sederhana.

Namun tentu, tidak mengurangi filosofi yang ada dalam tradisi tolak bala tersebut.

Baca juga: Desa Salimbatu Bulungan Gelar Ritual Tolak Bala di Baloi Adat Tidung, Harap Jadi Destinasi Wisata

"Kita melaksanakan pembacaan risalah. Supaya masyarakat tahu mengenai histori tolak bala ini," ujar Jafar.

Selain itu, ada pula ritual Betimbang. Yang mana setiap anak yang lahir di bulan safar harus di timbang.

Tradisi tolak bala, warisan budaya Suku Tidung yang dilaksanakan setiap Bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender hijriah.
Tradisi tolak bala, warisan budaya Suku Tidung yang dilaksanakan setiap Bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender hijriah. (TRIBUNKALTARA.COM/ HO-Humas KTT)

Agar beratnya seimbang, maka diisi dengan sayuran, kayu, dan sebagainya. Jika beratnya sudah sama, barulah diangkat.

"Kalau tidak ditimbang, kepercayaan orang dulu, itu akan membahayakan diri si anak tersebut," katanya.

Baca juga: Tradisi Tolak Bala Rencana Dijadikan Agenda Rutin Tahunan Pemda Tana Tidung

Selain itu, dilaksanakan Bemandi. Ritual ini dipercaya untuk menghilangkan hal-hal buruk dalam diri atau membersihkan diri dari mara bahaya.

"Kalau dulu itu mereka (masyarakat Suku Tidung) langsung turun ke sungai. Tapi sekarang kita tidak bisa berendam di sungai, karena sungai kita ini dalam dan arusnya deras juga. Jadi kita antisipasi dengan menyiapkan derum dan sebagainya," terangnya.

Dalam tradisi itu juga, kebiasaan masyarakat Suku Tidung membawa kue-kue jaman dulu. Seperti serabi, cucur, untuk saling bertukar kemudian dibawa pulang kembali.

Dia mengatakan, tidak ada filosofi dari bertukar makanan ini. Hal ini hanya kebiasaan masyarakat suku tidung, yang kemudian menjadi warisan budaya Suku Tidung.

Baca juga: Budaya Suku Tidung di Kalimantan Utara Saat Memasuki Bulan Safar, Gelar Tradisi Tolak Bala

"Yang ada filosofinya itu ketupat 7 macam. Jadi ada ketupat lepas, jadi maksudnya bala itu bisa lepas.

Ada juga ketupat burung, supaya bala yang ada sama kita itu dibawa terbang oleh burung," jelasnya.

(*)

Penulis: Risnawati

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved