Berita Tarakan Terkini

Soal Dugaan Rudapaksa Oknum TNI Terhadap Anak Usia 13 Tahun di Tarakan, Ini Tanggapan KPAI

Komisioner KPAI Retno ikut menanggapi kasus dugaan rudapaksa anak usia 13 tahun yang terjadi di Kota Tarakan pada 27 April 2022 lalu.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti ikut menanggapi kasus dugaan rudapaksa anak usia 13 tahun yang terjadi di Kota Tarakan pada 27 April 2022 lalu.

Dalam rilisnya, Retno Listyarti menegaskan, KPAI mengecam dugaan tindakan persetubuan anak di bawah umur dimana korban berinisial W dan masih berusia sekitar 13 tahun yang diduga dilakukan oleh seorang oknum TNI berinisial A sebanyak dua kali.

“KPAI mengapresiasi kesatuan dari terduga pelaku A yang akan transparan dalam proses penanganan kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh anggotanya, bahkan terduga pelaku sudah ditahan,” jelas Retno Listyarti dalam rilisnya, Rabu (25/5/2022).

Baca juga: Siap Kawal Korban Rudapaksa Oknum TNI, DP3APPKB Kota Tarakan Akan Lakukan Pendampingan Total

Lebih jauh Retno menegaskan, melakukan persetubuhan dengan anak, jika mengacu pada UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak adalah suatu tindak pidana, dan tidak ada alasan suka sama suka dalam hal persetubuhan dengan anak.

“Perbuatan itu apapun alasannya adalah sebuah tindak pidana yang ancaman hukumannya 5 tahun sampai 15 tahun. Oleh karena itu, dalam proses pidannya harus berpedoman pada UUPA tersebut,” tegas Retno.

Baca juga: Oknum TNI di Tarakan Diduga Rudapaksa Anak 13 Tahun, Satuan Tegaskan Terduga Sudah Diserahkan ke POM

Ia melanjutkan, terkait dengan informasi ada upaya mediasi, seharusnya tidak boleh dilakukan. Karena ini jelas perbuatan pidana.

“Keluarga korban dengan keluarga pelaku bisa saja saling memaafkan, namun proses hukum harus tetap berjalan,” tegasnya.

Ilustrasi - Seorang remaja perempuan menjadi korban pelecehan oknum aparat TNI. (TribunKaltara.com/Cornel Dimas Satrio K)
Ilustrasi - Seorang remaja perempuan menjadi korban pelecehan oknum aparat TNI. (TribunKaltara.com/Cornel Dimas Satrio K) (TribunKaltara.com/Cornel Dimas Satrio K)

Ia menambahkan juga, anak sebagai korban juga harus menadapatkan hak untuk rehabilitasi medis dan psikologis oleh Pemerintah Kota Tarakan melalui P2TP2A ataupun Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perindungan Anak kota Tarakan.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved