Berita Tana Tidung Terkini
Kepala BPS Tana Tidung Ungkap Alasan Inflasi di KTT Kecil: Baseline Harga Sudah Mahal Dari Awal
Kepala BPS Tana Tidung ungkap alasan inflasi di KTT kecil, Umar Riyadi: Baseline harga di KTT sudah mahal dari awal.
Penulis: Rismayanti | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tana Tidung ungkap inflasi di Kabupaten Tana Tidung diperkirakan dalam posisi 1,59 persen.
Kepala BPS Kabupaten Tana Tidung, Umar Riyadi mengatakan, perkiraan ini berdasarkan perhitungan BPS yang bersifat proxy.
Mengingat, diagram timbang yang digunakan BPS Kabupaten Tana Tidung masih belum update.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, mengapa iflasi di Kabupaten Tana Tidung kecil dengan perkiraan persentase 1,59 persen.

Hal ini disebabkan oleh, baseline harga-harga di Kabupaten Tana Tidung sendiri sudah mahal dari awal.
Sehingga, masyarakat Tana Tidung pun telah terbiasa dengan harga-harga yang mahal tersebut.
"Jadi, ketika ada fenomena kenaikan harga, itu menjadi hal yang biasa. Meskipun ada keluhan, tapi ya memang sudah terbiasa mahal dari awal," ujarnya kepada TribunKaltara.com, Senin (19/9/2022)
Lebih lanjut dia sampaikan, dampak kenaikan harga bahan bakar minyak, tidak hanya berdampak pada September ini.
Dia menambahkan, dampak kenaikan harga ini juga nantinya akan terlihat di bulan selanjutnya.
Dia mengatakan, BPS Kabupaten Tana Tidung juga akan terus memantau perkembangan harga setiap komoditas yang ada di Tana Tidung.
"Ini berlangsung sampai beberapa pekan ke depan, dan ini memang perintah langsung dari BPS pusat, untuk menghitung potensi-potensi kenaikan yang up normal di setiap wilayah," terangnya.
Terkait potensi kenaikan harga bahan pokok, tentunya pasti ada. Meski demikian, diharapkan kenaikan harga tersebut tak signifikan.
Sementara itu dia sampaikan, dengan harga bahan pokok yang naik dan dibarengi dengan daya beli yang rendah, justru akan menekan harga itu sendiri.
Dengan harga yang tidak bisa dijangkau, dimungkinkan para pedagang akan menurunkan harga agar stok yang ada bisa dipasarkan.
"Jadi akan selalu terbentuk titik tengah baru. Di mana, itu merupakan posisi yang bisa ditawarkan oleh pedagang dan juga bisa dijangkau oleh konsumen," katanya
"Mudah-mudahan ada upaya dari kita semua, untuk dalam proses penentuan harganya itu bisa lebih moderat lah. Sehingga tetap bisa dijangkau oleh konsumen," lanjutnya.
Penulis: Risna